BERITA TERKINI
Emir Qatar: Diplomasi dan Koordinasi Negara Teluk Kunci Stabilitas Timur Tengah

Emir Qatar: Diplomasi dan Koordinasi Negara Teluk Kunci Stabilitas Timur Tengah

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menekankan pentingnya jalur diplomasi dan penguatan koordinasi antarnegara Teluk untuk menjaga keamanan serta stabilitas Timur Tengah, di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik regional.

Pernyataan itu disampaikan Sheikh Tamim dalam pertemuan para pemimpin Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Jeddah, Arab Saudi, pada Selasa. “Pertemuan ini mencerminkan sikap Teluk yang bersatu dan perlunya meningkatkan koordinasi demi menjaga keamanan dan stabilitas kawasan,” ujarnya.

Pertemuan di Jeddah tersebut menjadi pertemuan tatap muka pertama para pemimpin GCC sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah dua bulan sebelumnya. KTT itu mempertemukan enam negara anggota GCC—Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Uni Emirat Arab—untuk membahas perkembangan regional serta langkah bersama dalam menghadapi dampak konflik.

Para pemimpin disambut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Agenda utama mencakup stabilitas kawasan, keamanan maritim, serta ancaman ekonomi yang muncul akibat terganggunya jalur energi global.

Salah satu fokus pembahasan adalah Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia yang sempat terganggu akibat perang. Negara-negara Teluk menegaskan pentingnya pembukaan penuh jalur tersebut dan menyatakan dukungan terhadap tercapainya kesepakatan damai permanen.

Pertemuan juga berlangsung saat Amerika Serikat mempertimbangkan proposal Iran terkait penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Dalam konteks ini, Qatar memperingatkan risiko konflik berkepanjangan yang dapat berubah menjadi ketidakstabilan jangka panjang.

“Kami tidak ingin melihat konflik beku yang sewaktu-waktu kembali memanas karena alasan politik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari.

Di tengah dinamika tersebut, keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari OPEC dan OPEC+ turut menambah dimensi baru dalam lanskap geopolitik energi kawasan. Meski gencatan senjata telah berlangsung sejak 8 April, para pemimpin GCC menilai ancaman konflik lanjutan masih tinggi selama belum tercapai penyelesaian diplomatik yang permanen.