Amerika Serikat dan negara-negara Eropa tengah membahas putaran baru sanksi serta kemungkinan penerapan tarif sekunder terhadap Rusia. Langkah ini ditujukan untuk memberi guncangan ekonomi yang lebih dalam, dengan harapan dapat mendorong Presiden Vladimir Putin bersedia berunding dengan Ukraina.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancara dengan program Meet the Press di NBC pada Minggu (7/9). Bessent mengatakan Washington siap meningkatkan tekanan, namun membutuhkan keterlibatan mitra-mitranya di Eropa.
“Kami siap meningkatkan tekanan terhadap Rusia, tetapi kami membutuhkan mitra kami di Eropa untuk ikut serta,” kata Bessent. Ia menambahkan bahwa Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance telah berbicara dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Jumat sebelumnya. Menurut Bessent, pembicaraan itu berlanjut pada diskusi terkait sanksi antara von der Leyen dan dirinya.
Bessent menggambarkan situasi saat ini sebagai perlombaan antara daya tahan militer Ukraina dan ketahanan ekonomi Rusia. Ia menilai, jika AS dan Uni Eropa memperketat sanksi serta memberlakukan tarif sekunder terhadap negara-negara yang membeli minyak Rusia, tekanan ekonomi dapat meningkat signifikan.
“Kita sekarang berada dalam perlombaan: seberapa lama militer Ukraina bisa bertahan versus seberapa lama ekonomi Rusia bisa bertahan. Jika AS dan Uni Eropa bisa menekan dengan lebih banyak sanksi, lebih banyak tarif sekunder pada negara-negara yang membeli minyak Rusia, maka ekonomi Rusia akan benar-benar runtuh dan itu akan memaksa Presiden Putin ke meja perundingan,” ujar Bessent.
Rusia saat ini telah berada di bawah sanksi berat dari AS dan Eropa. Namun, negara itu masih menemukan pasar bagi ekspor minyak dan gasnya, termasuk ke India dan sejumlah negara lain.

