BKSDA Wilayah I Kediri bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Himalaya UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung menggelar kegiatan pengamatan burung migrasi di Tulungagung. Kegiatan bertajuk Tulungagung Bird Walk itu dilakukan di area persawahan Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo, yang diketahui menjadi salah satu jalur migrasi burung dari belahan bumi utara.
Dalam pengamatan tersebut, peserta diminta mengamati perilaku dan ciri khas burung menggunakan binokular atau teropong. Hasil pengamatan kemudian dicatat, termasuk perilaku alami dan ciri pembeda, serta dilengkapi dengan gambar ilustrasi burung yang diamati.
Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, BKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra mengatakan kegiatan ini diinisiasi oleh Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung bersama BKSDA Kediri, dengan tujuan memperkenalkan jenis-jenis burung secara lebih dekat. Pada kesempatan tersebut, terdapat tiga jenis burung migrasi yang berhasil diamati, yakni trinil pantai (Actitis Hypoleuscos), trinil semak (Tringa Glareola), dan kicuit kerbau (Motacilla Tschutschensis).
Ahmad David menjelaskan, ketiga jenis burung itu berasal dari belahan bumi utara seperti China dan Rusia yang sedang mengalami musim dingin. Menurutnya, momen musim migrasi menjadi kesempatan untuk mengamati perilaku burung di alam.
Ia menambahkan, musim migrasi burung berlangsung sejak Oktober 2025 hingga Maret 2026. Burung-burung tersebut bermigrasi untuk bertahan hidup dengan mencari makanan ke wilayah tropis, sebelum kembali setelah musim dingin berakhir untuk berkembang biak.
Selama dua tahun pengamatan di Tulungagung, BKSDA mencatat sedikitnya ada tujuh jenis burung migrasi yang terpantau. Jenis-jenis itu meliputi trinil (Actitis Hypoleuscos), trinil semak (Triga Glaeola), kicuit kerbau (Motacilla Tschutschensis), cerek kernyut (Pluvialis Fulva), cerek kalung kecil (Charadrius Dubius), terik asia (Glareola Maldivarum), dan layang-layang asia (Hirundo Rustica).
Ahmad David menyebut burung terik asia menjadi salah satu jenis yang rutin dijumpai setiap tahun dengan jumlah individu yang sangat banyak. Ia mencontohkan, pihaknya pernah menghitung di Tulungagung bahwa dalam satu petak sawah terdapat sekitar 5.000 ekor burung terik asia.
Sementara itu, Ketua Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung, Fazal Marzuki mengaku antusias mengikuti pengamatan burung migrasi tersebut. Ia menyebut kegiatan itu menjadi pengalaman pertamanya melihat secara dekat perilaku burung migrasi di alam.
Fazal juga menyampaikan rencana menjadikan pengamatan burung sebagai agenda tahunan Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung untuk edukasi anggota. Menurutnya, kegiatan tersebut menarik perhatian anggota karena memberikan pengetahuan baru tentang burung migrasi melalui pengamatan langsung di alam.

