Brandwatch, perusahaan milik Cision yang bergerak di bidang intelijen sosial dan media, mengumumkan perluasan cakupan data di sejumlah platform utama di kawasan Asia Pasifik. Langkah ini ditujukan untuk membantu perusahaan global menjembatani kesenjangan antara akses data yang melimpah dan pemahaman yang lebih utuh terhadap audiens.
Brandwatch menyebut, meski volume data terus meningkat, penelitian terbaru perusahaan itu menemukan hanya 25% pemasar yang benar-benar memahami audiens mereka. Sinyal percakapan dan perilaku digital dinilai tersebar luas, namun belum terhubung dengan cara yang mendukung pengambilan keputusan secara percaya diri.
Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan data. Brandwatch menilai banyak perusahaan global masih mengandalkan sinyal dari platform yang didominasi layanan Barat, sementara perilaku konsumen bersifat global dan dibentuk oleh ekosistem digital yang lebih luas.
Di sisi lain, Asia Pasifik disebut menjadi pusat bagi lebih dari 2,5 miliar pengguna media sosial serta mendorong berbagai tren berpengaruh dalam perdagangan, budaya, dan konten. Brandwatch menilai strategi pemasaran yang bertumpu pada pandangan yang tidak menyeluruh berisiko tidak memadai, karena kesuksesan di kawasan ini tidak cukup hanya mengandalkan terjemahan, melainkan memerlukan pemahaman konteks budaya yang kuat.
Perluasan cakupan Brandwatch mencakup akses ke platform terkemuka di Asia Pasifik, termasuk WeChat, Weibo, dan RedNote, yang disebut berperan penting dalam membentuk perilaku konsumen, penemuan produk, dan persepsi merek di kawasan tersebut. Cakupan ini disediakan melalui kumpulan data yang dikurasi untuk menampilkan sinyal relevan dan tren yang berkembang tanpa membebani tim dengan data mentah.
Brandwatch menilai keterlambatan memahami sinyal dari kawasan Asia Pasifik dapat membuat peluang terlewat ketika tren baru muncul di platform Barat. Dengan visibilitas yang lebih awal, perusahaan berharap merek dapat mengantisipasi perubahan, bertindak lebih percaya diri, dan memengaruhi hasil.
Dalam pengolahan data, Brandwatch mengandalkan lapisan intelijennya, Iris AI, untuk mengubah dan mengumpulkan data dalam berbagai bahasa dan kompleks menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti. Teknologi ini diklaim membantu tim menafsirkan sinyal lintas bahasa, aksara, dan konteks budaya.
Chief Product Officer Cision, Jim Daxner, mengatakan merek yang berhasil ke depan bukan semata karena memiliki lebih banyak data, melainkan karena memiliki pandangan yang lebih menyeluruh. Ia menyebut perluasan cakupan data di Asia Pasifik diharapkan membantu pelanggan melihat gambaran yang lebih lengkap dan menindaklanjutinya dengan lebih percaya diri.
Brandwatch menambahkan, seiring perilaku konsumen yang kian global dan terpisah, kemampuan menghubungkan sinyal antarwilayah akan menjadi faktor penentu efektivitas merek dalam memahami audiens dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut.