Bursa saham Asia Pasifik dibuka bervariasi pada perdagangan Jumat (24/4/2027). Pergerakan yang beragam ini terjadi saat investor tetap berhati-hati meski gencatan senjata Israel–Lebanon diperpanjang selama tiga minggu, yang menegaskan ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu usai pertemuan di Gedung Putih dengan pejabat tinggi AS. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut pertemuan tersebut berjalan sangat baik.
Gencatan senjata sementara yang semula dijadwalkan berakhir setelah 10 hari kini memberi waktu tambahan bagi upaya diplomatik. Washington juga menyatakan akan bekerja sama dengan Lebanon untuk memperkuat pertahanannya terhadap Hizbullah.
Di pasar komoditas, harga minyak berjangka AS naik sekitar 1,23% ke kisaran USD 97,03 per barel.
Dari kawasan Asia, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,71% dan Topix menguat 0,30%. Penguatan ini menyusul data inflasi inti Jepang yang meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan, menjadi 1,8% pada Maret. Data pemerintah menunjukkan inflasi inti—yang tidak memasukkan harga makanan segar—sesuai perkiraan 1,8% dari survei ekonom dan lebih tinggi dibanding 1,6% pada Februari. Dalam laporan yang sama disebutkan perang Iran turut memicu kekhawatiran terkait energi.
Di Korea Selatan, indeks Kospi turun 0,23%, sementara Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil diperdagangkan datar. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 25.802, lebih rendah dari penutupan terakhir indeks di 25.915,2. Di Australia, S&P/ASX 200 melemah 0,29%.
Pergerakan bursa Asia juga mengikuti penurunan Wall Street pada perdagangan Kamis sebelumnya. Saham-saham di AS melemah dipimpin penurunan saham perangkat lunak dan kenaikan harga minyak, seiring ketidakpastian investor mengenai arah perang Iran. Indeks S&P 500 turun 0,41% dan ditutup di 7.108,40 setelah sempat mencetak rekor tertinggi intraday. Nasdaq Composite turun 0,89% ke 24.438,50 dan juga sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada sesi tersebut. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 179,71 poin atau 0,36% ke 49.310,32.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (23/4/2026) ditutup melemah 2,16% ke 7.378,60. Tekanan terjadi di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan mayoritas sektor saham yang tertekan. Indeks LQ45 turun 2,73% ke 715,87.
Pada sesi kedua, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.582,50 dan terendah 7.378,60. Tercatat 505 saham melemah, 192 saham menguat, dan 123 saham stagnan. Total frekuensi perdagangan mencapai 3.079.440 kali, dengan volume 54,2 miliar saham dan nilai transaksi Rp 20,5 triliun. Kurs dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 17.278.
Dari 11 sektor, sektor transportasi naik 2,5%. Namun sebagian besar sektor melemah, di antaranya energi turun 1,54%, basic turun 1,94%, dan industri terpangkas 3,41%. Sektor consumer siklikal mencatat koreksi terbesar, turun 3,43%, sementara consumer nonsiklikal melemah 0,59%. Sektor kesehatan turun 1,45%, keuangan turun 1,22%, properti merosot 1,48%, teknologi turun 2,36%, dan infrastruktur terpangkas 2,33%.
Sejumlah saham mencatat pergerakan beragam. Saham BBCA turun 0,39% ke Rp 6.425 per saham, dengan kisaran perdagangan Rp 6.425–Rp 6.550 dan nilai transaksi Rp 769,5 miliar. Saham ASGR naik 0,78% ke Rp 1.930 per saham, bergerak pada rentang Rp 1.905–Rp 1.940 dengan nilai transaksi Rp 16 miliar. Saham AKRA naik 1,02% ke Rp 1.490 per saham, dengan kisaran Rp 1.475–Rp 1.525 dan nilai transaksi Rp 26,1 miliar.