Chairman B57+ Asia Pasifik atau Forum Bisnis Negara Islam Asia Pasifik, Arsjad Rasjid, menegaskan bahwa konsep halal kini tidak lagi terbatas pada produk pangan. Menurut dia, halal telah berkembang menjadi gaya hidup yang bertumpu pada nilai kepercayaan, kualitas, dan integritas.
Perkembangan tersebut membuat standar halal semakin relevan di berbagai sektor, mulai dari fesyen, layanan kesehatan, hingga logistik dan keuangan syariah. Di sejumlah negara, tren ini juga terlihat melalui pertumbuhan pariwisata halal dan penguatan rantai pasok yang berbasis prinsip syariah.
“Halal tidak terbatas pada urusan pangan. Halal adalah lifestyle, yang berakar pada kepercayaan, kualitas, dan integritas yang kini menjadi standar yang relevan di berbagai sektor, dari fesyen dan kesehatan hingga logistik dan keuangan syariah,” ujar Arsjad dalam acara Halalbihalal B57+ di Masjid Istiqlal, Rabu (22/4/2026).
Arsjad menyebut ekonomi halal kini menjadi “bahasa bisnis” yang bersifat universal. Artinya, sektor ini tidak hanya ditujukan bagi komunitas Muslim, tetapi juga diterima lebih luas karena menawarkan nilai transparansi dan jaminan kualitas.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa potensi besar tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi manfaat ekonomi. Salah satu tantangan utama yang disorot adalah belum kuatnya konektivitas antarnegara, khususnya di antara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan mitra strategisnya.
“Kita melihat ini terjadi di seluruh dunia, di sektor pariwisata, supply chain, hingga keuangan syariah yang berkembang pesat di berbagai negara. Ekonomi halal adalah bahasa bisnis yang semakin universal-inklusif, tumbuh, dan relevan bagi semua,” ungkapnya.
Karena itu, Arsjad menilai kehadiran B57+ penting sebagai jembatan kelembagaan untuk memperkuat kerja sama lintas negara. Platform tersebut diharapkan dapat menghadirkan mekanisme yang lebih terstruktur, terpercaya, dan berdampak dalam mendorong perdagangan serta investasi.
Ia menekankan langkah ke depan tidak cukup berhenti pada identifikasi peluang. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan potensi ekonomi halal menjadi pertumbuhan yang konkret dan terukur, sekaligus memperkuat kepercayaan antar pelaku usaha di tingkat global.
“Tugas kita adalah menerjemahkan potensi ini menjadi manfaat ekonomi yang nyata,” kata Arsjad.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian memberikan penghargaan kepada pelaku industri yang berkomitmen terhadap jaminan halal untuk seluruh produk dan fasilitas produksinya dalam ajang Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) 2025 di ICE BSD, Tangerang.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam sambutannya usai penyerahan penghargaan, memaparkan potensi pasar halal di Indonesia. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi nasional pada masa depan perlu didominasi oleh ekonomi syariah.
“Kemenperin melihat adanya kebutuhan baik domestik maupun global terhadap industri halal sehingga ada potensi ekonomi, potensi pasar,” ujar Agus, dikutip Kamis (2/10/2025).
Salah satu penerima penghargaan adalah Dexa Group untuk kategori Perusahaan Industri Farmasi dan Obat Tradisional Halal Terbaik. Penghargaan itu diberikan atas komitmen PT Dexa Medica dalam mendukung ekosistem industri halal di Indonesia.
Business Development and Scientific Affairs Director PT Dexa Medica, Raymond Tjandrawinata, menyampaikan seluruh produk Dexa Group saat ini telah memperoleh sertifikasi halal.
“Dexa Group telah memulai komitmen untuk memperoleh sertifikat jaminan halal terhadap seluruh produk dan fasilitasnya sebelum tahun 2019. Itu artinya, komitmen terhadap halal kita lakukan dengan sangat serius hingga saat ini, sekaligus sebagai bentuk terobosan,” kata Raymond.
Dexa Group juga menerima penghargaan dari LPH LPPOM dalam ajang LPPOM Excellence Gala 2025. Dalam ajang tersebut, Dexa Group meraih Corporate Halal Leadership Award untuk kategori Innovation - Research & Development.