JAKARTA – Pemerintah Indonesia mendorong penguatan kerja sama regional di kawasan Asia-Pasifik untuk mempercepat transformasi sistem pangan dan pertanian. Upaya ini dinilai semakin penting di tengah tantangan ketahanan pangan yang dipengaruhi perubahan iklim, tekanan lahan, serta dinamika permintaan global.
Dalam Sesi ke-38 Konferensi Regional Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk Asia dan Pasifik (APRC38) di Brunei Darussalam, Indonesia menyampaikan seruan kepada negara-negara anggota FAO agar memperkuat kolaborasi. Pertemuan para menteri dari seluruh kawasan itu digelar untuk menegosiasikan kerja sama dan prioritas aksi bersama FAO.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil, yang mewakili pemerintah, mengatakan negara-negara anggota FAO di Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia, telah aktif dalam berbagai inisiatif FAO yang mendukung solusi lokal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (24/4).
Ali menyebut Indonesia mengusulkan penjajakan wadah transformasi sistem pangan sub-regional Asia Tenggara guna meningkatkan koordinasi, pertukaran pengetahuan, dan dukungan pembiayaan, termasuk melalui Kerja Sama Selatan-Selatan. Selain itu, Indonesia juga tengah menjajaki reformasi struktural dan penguatan tata kelola untuk menempatkan petani sebagai pusat transformasi sistem pangan dan pertanian.
Transformasi sistem pangan dan pertanian dipandang krusial untuk menjawab tekanan yang semakin kompleks. Pergeseran dari pola produksi konvensional menuju sistem yang lebih berkelanjutan, antara lain melalui pemanfaatan teknologi, efisiensi rantai pasok, dan diversifikasi komoditas, disebut dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Integrasi hulu-hilir serta penguatan kelembagaan petani juga dinilai penting untuk menciptakan nilai tambah dan menjaga stabilitas harga. Namun, keberhasilan transformasi ini bergantung pada konsistensi kebijakan, akses pembiayaan, serta kesiapan sumber daya manusia dalam mengadopsi inovasi di sektor pertanian.
Ali menambahkan, pertanian masih menjadi salah satu penopang perekonomian Indonesia, menyumbang sekitar 14 persen produk domestik bruto (PDB) dan menopang kehidupan lebih dari 40 juta orang, yang mayoritas merupakan petani kecil.
Kondisi serupa juga terlihat di kawasan Asia-Pasifik. Petani kecil yang mencakup sekitar 80 persen dari seluruh produsen di kawasan tersebut menghasilkan 54 persen dari produksi pertanian dan perikanan global.
APRC38 disebut berlangsung pada momen kritis bagi sistem agripangan yang menghadapi tekanan dari ketegangan geopolitik dan dampak iklim. Konferensi ini bertujuan memperkuat kapasitas pertanian kawasan untuk meningkatkan ketahanan pangan bagi semua, termasuk memastikan petani kecil dapat merasakan manfaat dari teknologi dan perdagangan.
Saat membuka konferensi, Putra Mahkota Kesultanan Brunei Darussalam Pangeran Al Muhtadee Billah menyerukan negara-negara anggota untuk bekerja sama meningkatkan ketahanan dan keamanan pangan di kawasan.