Panggung diplomasi kembali mengemuka di Islamabad di tengah perang Iran yang memasuki hari ke-54, saat gencatan senjata yang diperpanjang Presiden Amerika Serikat Donald Trump berlangsung tanpa batas waktu dan tanpa persetujuan Iran. Dalam situasi ini, delegasi Iran yang diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi terbang ke Pakistan, sebelum melanjutkan rencana perjalanan ke Oman dan Rusia, dengan agenda yang tampak diarahkan untuk meredakan konflik yang kian meluas melampaui kawasan.
Namun, rencana kehadiran delegasi Amerika Serikat batal. AS semula disebut akan diwakili Steve Witkoff dan Jared Kushner, tetapi Trump menyatakan pihaknya tidak akan menempuh perjalanan panjang untuk sebuah pertemuan yang, menurutnya, tidak memiliki bobot. “Kami tidak akan bepergian 15, 16 jam untuk sebuah pertemuan dengan orang-orang yang belum pernah didengar oleh siapa pun,” kata Trump.
Situasi tersebut memunculkan paradoks yang digambarkan sebagai “perundingan tanpa pertemuan” di Islamabad. Araghchi menegaskan bahwa “tidak ada rencana untuk sebuah pertemuan antara Iran dan AS”. Iran, pada saat yang sama, tetap menolak perundingan langsung dengan AS dan memilih jalur tidak langsung melalui mediator.
Di balik pertemuan yang difasilitasi Pakistan, dinamika putaran kedua perundingan Iran–AS disebut mempertegas pola lama: negosiasi diplomatik berlangsung, tetapi dinilai tidak menyentuh akar konflik yang akut. Perbedaan kepentingan kedua negara juga digambarkan sangat tajam dan saling menegasikan.
AS menginginkan jaminan verifikasi atas program nuklir Iran serta stabilitas kawasan. Sementara itu, Iran menuntut penghentian serangan AS-Israel dan pencabutan blokade ekonomi. Dengan posisi yang berseberangan ini, proses diplomasi di Islamabad kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena absennya pertemuan langsung, tetapi juga karena tantangan untuk menjembatani tuntutan yang bertolak belakang.