BERITA TERKINI
Dosen UMM Uraikan Akar Ketegangan AS–Venezuela dan Potensi Dampaknya bagi Indonesia

Dosen UMM Uraikan Akar Ketegangan AS–Venezuela dan Potensi Dampaknya bagi Indonesia

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela dinilai tidak bisa dipahami secara sederhana karena melibatkan banyak lapisan kepentingan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga geopolitik global. Pandangan itu disampaikan Azza Bimantara MA, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan kedua negara yang kembali memanas belakangan ini.

Azza menjelaskan, akar konflik dapat ditelusuri sejak era Presiden Hugo Chávez yang terpilih pada 1998. Pada masa itu, Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, termasuk nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing.

Menurut Azza, kebijakan tersebut berseberangan secara ideologis dengan model ekonomi AS yang neoliberal dan menempatkan kepentingan perusahaan multinasional sebagai prioritas. Hasil nasionalisasi minyak kemudian digunakan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah itu justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh AS.

“Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujar Azza.

Kompleksitas konflik, lanjutnya, meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba serta memperkuat kedekatan dengan kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Kedekatan tersebut dipersepsikan AS sebagai ancaman geopolitik, terlebih Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar dan dinilai strategis.

Tekanan politik AS disebut berlanjut hingga era Nicolás Maduro. Azza menilai Maduro melanjutkan bahkan memperkuat kebijakan Chávez, dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Di sisi lain, dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik.

Azza juga menyoroti dimensi energi sebagai faktor kunci dalam kebijakan luar negeri AS. Ia menekankan, keamanan energi dipandang sebagai fondasi stabilitas ekonomi AS, sehingga akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis. Ia menyinggung pernyataan Presiden AS setelah penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela.

Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. Ia menyebut belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela, sementara Pertamina memastikan operasi migas di Venezuela masih berjalan normal. Meski begitu, ia mengingatkan dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang.

Azza menutup dengan menekankan bahwa kasus AS–Venezuela dapat menjadi bahan pembelajaran penting, terutama bagi mahasiswa Hubungan Internasional. Menurutnya, konflik geopolitik kerap tidak terlepas dari kepentingan ekonomi dan energi, sehingga perlu dikaji secara lebih komprehensif.