Di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda, ekonom global Shan Saeed menilai ekonomi Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi. Menurutnya, pertumbuhan di atas 6 persen bukan target yang sulit dicapai, terutama jika situasi eksternal tidak semakin memburuk.
“Kalau tensi global mereda, saya tidak akan kaget kalau pertumbuhan Indonesia bisa menembus 6 persen,” kata Shan dalam diskusi media yang digelar Badan Komunikasi (Bakom) di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Shan mendasarkan pandangannya pada kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai cukup solid. Ia menyebut rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di kisaran 28 persen, defisit anggaran dijaga di bawah 3 persen, dan inflasi relatif terkendali sekitar 3,5 persen. Menurutnya, indikator tersebut memberi ruang bagi pemerintah untuk menjalankan kebijakan fiskal secara optimal, di saat banyak negara lain justru menghadapi keterbatasan.
“Banyak negara sekarang ruang fiskalnya sempit. Mereka sulit melakukan ekspansi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada di kisaran 5 persen. Dalam kondisi normal, angka itu dinilai dapat bergerak pada rentang 5 hingga 7 persen.
Selain indikator makro, Shan juga menyoroti aktivitas ekonomi yang menurutnya masih menunjukkan tren positif. Ia mencontohkan tingginya aktivitas konsumsi masyarakat yang terlihat dari ramainya restoran, meningkatnya jumlah kendaraan, serta tingginya konsumsi energi.
“Indikator sederhana seperti itu bisa menunjukkan bahwa ekonomi tetap berjalan,” katanya.
Pandangan tersebut disebut sejalan dengan penilaian sejumlah lembaga internasional, termasuk The Economist, yang menilai Indonesia tetap menarik karena ditopang pasar domestik yang besar. Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, konsumsi domestik menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, Shan menekankan pentingnya investasi pada sumber daya manusia, khususnya perempuan, untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang. Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan dan partisipasi perempuan dalam ekonomi akan memperkuat fondasi pertumbuhan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyinggung pergerakan nilai tukar rupiah. Menurut Shan, pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor global, terutama penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian.
“Ketika risiko global naik, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar atau emas. Itu yang menekan mata uang negara berkembang,” ujarnya. Ia menilai kondisi tersebut tidak mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia, melainkan bagian dari dinamika pasar global.
Shan Saeed merupakan Global Chief Economist di Juwai IQI, perusahaan proptech dan penasihat real estat yang beroperasi di lebih dari 35 negara. Berbasis di Kuala Lumpur, ia memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di pasar keuangan global dan kerap memberikan analisis mengenai tren makro global serta risiko geopolitik.
Dengan fondasi yang dinilai terjaga dan konsumsi domestik yang kuat, Shan menilai peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6 persen tetap terbuka. Tantangannya, menurut dia, adalah menjaga momentum di tengah ketidakpastian global.