Para pemimpin Eropa mengintensifkan komunikasi diplomatik melalui pembicaraan via telepon untuk membahas kelanjutan nasib Ukraina, menyusul pernyataan Rusia yang akan merevisi posisi negosiasinya. Moskow mengaitkan langkah tersebut dengan klaim bahwa pesawat tak berawak (drone) Ukraina menargetkan salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin.
Perdana Menteri Belanda Dick Schoof mengatakan upaya untuk memastikan adanya jaminan keamanan yang kuat terus berjalan. Dalam unggahan di platform X pada Selasa (30/12), Schoof juga menyebut para sekutu Kyiv yang tergabung dalam “Koalisi Negara-negara yang Bersedia” (Coalition of the Willing) dijadwalkan berkumpul pada pekan depan.
Pembicaraan tingkat tinggi itu diikuti sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Finlandia Alexander Stubb, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, serta Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Dari pihak Rusia, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Selasa mengonfirmasi bahwa Rusia akan “memperkeras” sikap negosiasinya menyusul dugaan serangan terhadap kediaman kepresidenan di wilayah Novgorod, sekitar 400 kilometer di barat laut Moskow. Namun, menurut kantor berita Interfax, Peskov tidak merinci perubahan sikap tersebut kepada publik.

