BERITA TERKINI
Exit Private Equity Asia Tenggara Melemah, Nilai Keluar Investasi Turun 32% pada 2025

Exit Private Equity Asia Tenggara Melemah, Nilai Keluar Investasi Turun 32% pada 2025

Pasar private equity (PE) di Asia Tenggara masih berada dalam tekanan, terutama pada sisi exit atau penjualan investasi. Meski terdapat tanda-tanda pemulihan selektif dalam aktivitas transaksi sepanjang 2025, keterbatasan jalur exit dinilai masih menjadi faktor yang membatasi pemulihan secara lebih luas.

Laporan Bain & Company bertajuk Southeast Asia Private Equity Report 2026 mencatat nilai transaksi PE di kawasan Asia Tenggara turun sekitar 10% secara tahunan menjadi sekitar US$ 14 miliar, yang berasal dari 84 transaksi.

Aktivitas investasi masih didominasi transaksi growth dan buyout. Namun, pemulihan dinilai tidak merata karena nilai transaksi terkonsentrasi pada sejumlah kecil kesepakatan berukuran besar, sejalan dengan tren yang juga terlihat di kawasan Asia Pasifik.

Dalam kondisi tersebut, investor disebut semakin selektif dengan mengutamakan aset berkualitas tinggi, manajemen yang kuat, keunggulan kompetitif yang jelas, serta jalur exit yang terukur.

Tantangan terbesar datang dari melemahnya aktivitas exit. Nilai exit tercatat turun 32% pada 2025. Penjualan strategis (trade sale) masih menjadi jalur utama, sementara aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) mulai menunjukkan tanda pemulihan awal.

Periode kepemilikan yang semakin panjang turut meningkatkan jumlah aset yang “menjadi tua” (aging), sehingga transaksi pasar sekunder kian penting sebagai alternatif penyedia likuiditas.

“Pasar private equity Asia Tenggara sedang stabil, tetapi pemulihannya sempit dan sangat dipengaruhi keterbatasan exit,” kata Tom Kidd.

Dengan exit yang terbatas, penciptaan nilai operasional menjadi pendorong utama imbal hasil. Investor lebih banyak mengandalkan pertumbuhan EBITDA melalui efisiensi biaya, strategi harga, dan penguatan komersial, ketimbang mengandalkan kenaikan valuasi.

Di sisi lain, penggunaan kecerdasan buatan (AI) mulai meningkat dalam proses due diligence dan pengelolaan portofolio. Lebih dari 70% investor melaporkan telah memanfaatkan AI, meski dampaknya dinilai masih pada tahap awal.

Aliran investasi juga disebut semakin mengikuti tema pertumbuhan struktural, antara lain infrastruktur digital dan AI, termasuk pusat data. Sektor kesehatan mencatat kenaikan nilai transaksi sekitar 60% dalam lima tahun terakhir. Manufaktur dan industri terdorong relokasi rantai pasok China+1 ke Vietnam dan Indonesia. Selain itu, jasa keuangan—terutama fintech—serta sektor konsumer yang bergeser ke produk lokal dan berbasis nilai turut menjadi perhatian.

Dari sisi negara, Singapura tetap menjadi pusat utama transaksi dengan nilai sekitar US$ 7 miliar. Malaysia mencatat kenaikan tahunan tertinggi dengan nilai transaksi mencapai US$ 5,3 miliar. Sementara itu, Vietnam melaporkan nol aktivitas exit, yang mencerminkan tantangan likuiditas di pasar.

Secara lebih luas, investor di Asia Pasifik masih menghadapi tekanan serupa, termasuk proses fundraising yang ketat, ketidakpastian makroekonomi, serta keterbatasan aset berkualitas.

“Keberhasilan kini bergantung pada strategi investasi yang jelas, keahlian sektoral, dan kemampuan operasional yang kuat,” kata Suvir Varma.