Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bekerja sama dengan Kedutaan Besar Peru di Indonesia menggelar Peruvian Film Festival 2026 di lingkungan kampus ISI Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan budaya dan akademik antara Indonesia dan Peru melalui medium film.
Festival tersebut menghadirkan pemutaran sekitar 8 hingga 10 film Peru kontemporer dari berbagai genre. Selain pemutaran film, rangkaian acara juga mencakup diskusi akademik, kuliah umum, serta sesi jejaring yang melibatkan mahasiswa, dosen, sineas Peru, dan perwakilan diplomatik.
Dekan FSMR ISI Yogyakarta, Dr. Edial Rusli, mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk membuka ruang kerja sama internasional yang lebih luas di bidang seni dan perfilman. Ia menilai kerja sama budaya dengan Peru menarik karena negara tersebut memiliki kekayaan film dan budaya yang unik.
Edial menyampaikan, festival ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus mendorong internasionalisasi kampus. Menurutnya, melalui kegiatan ini mahasiswa tidak hanya menonton film, tetapi juga berkesempatan bertukar pengetahuan serta perspektif dengan sineas dari luar negeri.
Salah satu sineas yang hadir, John Alexander, turut berbagi pengalaman kreatifnya. Ia memperkenalkan film pendek berjudul Jepang yang diproduksi dengan anggaran terbatas. Ia menyebut film tersebut dibuat dengan dana 50 dolar, namun dapat dibawa ke berbagai festival internasional.
John menekankan keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk berkarya selama ide dan cerita memiliki kekuatan. Dalam konteks itu, Peruvian Film Festival 2026 tidak hanya menjadi ajang pemutaran film, tetapi juga platform edukatif sekaligus diplomasi budaya.
Edial menambahkan, ke depan kerja sama ini diharapkan berkembang lebih intensif, termasuk peluang pertukaran mahasiswa, kolaborasi produksi film, hingga perluasan jaringan festival internasional bagi sivitas akademika ISI Yogyakarta.