Banjarmasin — Di tengah gejolak geopolitik global dan pelemahan ekonomi yang menekan pasar saham, jumlah investor pasar modal Indonesia justru terus bertambah. Kenaikan ini terutama ditopang investor ritel dari kalangan generasi muda.
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Selatan, Yuniar, menyampaikan perkembangan tersebut dalam workshop wartawan daerah di Banjarmasin, Rabu (29/4/2026). Menurut dia, sepanjang awal 2026 pasar saham menghadapi tantangan serius, mulai dari konflik global hingga aksi jual investor asing.
Namun, di balik tekanan itu, minat masyarakat untuk berinvestasi tetap tumbuh. “Per 24 April 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 26,12 juta. Ini melonjak tajam dibandingkan 3,9 juta investor pada 2020,” ujar Yuniar.
Lonjakan tersebut menunjukkan pertumbuhan lebih dari lima kali lipat dalam lima tahun terakhir, sekaligus menggambarkan meningkatnya partisipasi publik dalam pasar keuangan. Dari sisi emiten, jumlah perusahaan tercatat di BEI juga bertambah menjadi 957. Aktivitas transaksi pun disebut semakin didominasi investor ritel.
Meski basis investor meningkat, kinerja pasar saham tidak sepenuhnya mulus. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan sejak awal tahun seiring sentimen eksternal, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan ketegangan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
“Aksi jual investor asing menjadi salah satu faktor utama yang menekan IHSG dan rupiah,” kata Yuniar. IHSG sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi 9.174 pada Januari 2026, sebelum terkoreksi dan bergerak di kisaran 7.100 hingga 7.300 hingga akhir April.
Di tengah kondisi tersebut, investor ritel—khususnya generasi muda—disebut menjadi penopang utama pasar modal. Data BEI menunjukkan investor berusia di bawah 30 tahun masih mendominasi jumlah investor ritel hingga Maret 2026. Peningkatan literasi keuangan turut mendorong tren ini, meski tingkat inklusi pasar modal masih lebih rendah dibanding sektor jasa keuangan lainnya.
Untuk memperluas akses dan edukasi, BEI mengembangkan lebih dari seribu Galeri Investasi serta puluhan kantor perwakilan di berbagai daerah.
Selain itu, BEI juga menyiapkan inovasi produk berupa Exchange Traded Fund (ETF) emas. Instrumen ini akan berbasis emas fisik dan diharapkan menjadi alternatif investasi bagi investor domestik maupun global. Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan produk tersebut karena posisinya sebagai salah satu produsen emas terbesar dunia.
“ETF emas diharapkan dapat memperkuat ekosistem bullion nasional sekaligus memperluas pilihan instrumen investasi,” ujar Yuniar. Ia menambahkan, lebih dari 10 manajer investasi telah menyatakan minat menerbitkan produk tersebut, yang juga disebut telah mengantongi fatwa syariah dari DSN-MUI.