JAKARTA — Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng), terutama yang berpotensi mengganggu jalur strategis seperti Selat Hormuz, dinilai tidak hanya berdampak pada sektor energi dan logistik global, tetapi juga dapat merembet ke industri asuransi, termasuk asuransi jiwa.
Praktisi asuransi sekaligus Chairman PT Jupiter Insurance Brokers & Consultant, Kapler Marpaung, mengatakan dampak awal konflik umumnya paling terasa pada lini asuransi umum. Sektor yang terdampak antara lain asuransi penerbangan, marine, perdagangan, risiko politik, hingga perlindungan kapal (protection and indemnity/P&I).
Namun, Kapler menilai dalam jangka panjang tekanan ekonomi global akibat konflik yang berlarut dapat menjalar ke asuransi jiwa dan kesehatan. Ia menjelaskan, konflik berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga secara umum dan meningkatkan inflasi. Kondisi tersebut dapat menekan perekonomian suatu negara dan menurunkan daya beli masyarakat.
“Kalau (konflik) berkelanjutan, ini kan berarti kenaikan harga umum. Inflasinya tinggi berarti ekonomi suatu negara akan turun, kalau begitu daya beli masyarakat turun. Kalau pendapatan turun berarti masyarakat sudah kurang kemampuannya untuk menjaga kesehatan,” ujar Kapler dalam Podcast Konvergensi di Kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Kapler menambahkan, penurunan kualitas hidup akibat tekanan ekonomi dapat meningkatkan risiko kesehatan masyarakat. Dalam industri asuransi, kondisi ini dikenal sebagai kenaikan tingkat mortalitas (kematian) dan morbiditas (tingkat kesakitan).
“Jadi tingkat mortalitasnya akan menjadi lebih tinggi atau lebih besar, tingkat morbiditasnya semakin banyak sakit. Itu kan menimbulkan biaya kesehatan yang semakin tinggi,” kata Kapler, yang juga tercatat sebagai Dosen Program MM- FE&B Universitas Gadjah Mada.
Menurutnya, ketika biaya kesehatan meningkat, penyesuaian premi menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. “Kalau biaya kesehatan ini nanti tinggi karena faktor tadi, maka premi asuransi kesehatan, termasuk di asuransi jiwa, juga harus disesuaikan naik,” ujarnya.
Kapler menilai situasi tersebut dapat membentuk siklus yang saling berkaitan dan tidak mudah diputus. Ia menekankan industri asuransi memiliki keterkaitan luas dengan berbagai aspek ekonomi dan sosial, sehingga perubahan pada satu sektor dapat memicu dampak berantai pada sektor lainnya.
“Industri asuransi ini adalah industri yang sangat kompleks hubungannya ke semua sektor. Makanya dikatakan, orang-orang yang kerja di industri asuransi itu harus mengetahui disiplin ilmu karena semuanya terkait,” ucap Kapler.