BERITA TERKINI
Hadapi Ancaman Krisis Energi Global, Presiden Korea Selatan Imbau Warga Hemat Listrik dan Persingkat Waktu Mandi

Hadapi Ancaman Krisis Energi Global, Presiden Korea Selatan Imbau Warga Hemat Listrik dan Persingkat Waktu Mandi

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengimbau warga untuk menghemat energi di tengah meningkatnya risiko krisis energi global yang dipicu ketegangan geopolitik melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Imbauan itu disampaikan dalam rapat kabinet pada Selasa (24/3), bersamaan dengan peluncuran pedoman penghematan energi bagi masyarakat.

Pemerintah merilis 12 pedoman yang mencakup sejumlah langkah praktis di rumah. Di antaranya mempersingkat waktu mandi, mengisi daya ponsel dan kendaraan listrik pada siang hari, serta menggunakan peralatan rumah tangga seperti mesin cuci dan penyedot debu pada akhir pekan.

Menteri Energi Korea Selatan Kim Sung-whan mengatakan pemerintah juga mendorong pembatasan penggunaan kendaraan sektor swasta secara sukarela. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat diperketat apabila kondisi pasokan energi memburuk.

Pemerintah juga menyiapkan langkah darurat untuk sektor industri. Kim menyebut pemerintah akan meminta 50 perusahaan pengguna minyak terbesar untuk mengurangi konsumsi energi, disertai pengaturan jam kerja serta perjalanan yang lebih fleksibel guna menekan penggunaan bahan bakar.

Dari sisi pasokan, pemerintah berencana mengaktifkan kembali lima reaktor nuklir pada Mei, melonggarkan pembatasan pembangkit listrik tenaga batu bara, serta mempercepat pengembangan energi terbarukan. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap gas alam cair (LNG).

Penyesuaian bauran energi tersebut diperkirakan dapat menghemat hingga 14.000 ton LNG per hari, atau sekitar 20 persen dari konsumsi harian rata-rata Korea Selatan yang mencapai 69.000 ton. Sejumlah perusahaan besar, termasuk HD Hyundai, juga disebut telah menerapkan efisiensi energi di anak usahanya, antara lain dengan mengurangi penggunaan listrik, membatasi kendaraan, dan mengurangi penggunaan plastik.

Di bidang fiskal, pemerintah berencana mengajukan anggaran tambahan sebesar 25 triliun won (sekitar 16,6 miliar dollar AS). Lee mengatakan dana itu akan digunakan untuk bantuan langsung kepada masyarakat serta dukungan bagi dunia usaha. Dalam rapat kabinet, ia menekankan bahwa prioritas saat ini adalah menyalurkan dana secara cepat dan efektif ke sektor yang paling membutuhkan.

Tekanan terhadap cadangan energi Korea Selatan meningkat seiring terganggunya pasar energi global, termasuk distribusi minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik bersenjata yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran. Korea Selatan mengimpor sekitar 70 persen kebutuhan minyak mentahnya melalui jalur tersebut.

Korea Selatan tercatat memiliki cadangan sekitar 190 juta barel, terdiri dari 100 juta barel milik pemerintah dan 90 juta barel milik swasta. Berdasarkan standar International Energy Agency, cadangan itu seharusnya cukup untuk 208 hari, namun perhitungan tersebut tidak memasukkan kebutuhan industri seperti ekspor petrokimia.

Dengan konsumsi harian mencapai 2,9 juta barel, analis memperkirakan cadangan energi Korea Selatan berpotensi habis dalam waktu kurang dari dua bulan. Sebagai antisipasi, pemerintah disebut telah mengamankan komitmen pasokan tambahan sebesar 24 juta barel minyak dari Uni Emirat Arab, meski jadwal pengirimannya belum pasti.