Pilpres 2019 mempertemukan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang sama-sama beragama Islam. Namun, di tengah kontestasi, muncul kesan adanya pertarungan internal di kalangan pemeluk agama, terutama melalui isu-isu yang dikaitkan dengan identitas dan keberpihakan terhadap Islam.
Dalam narasi yang berkembang, sejumlah pihak membangun framing bahwa pasangan Prabowo Subianto–Sandiaga Uno merupakan tokoh pembela Islam. Salah satu alasan yang kerap disebut adalah karena pasangan calon nomor urut 02 itu merupakan hasil Ijtima’ Ulama I dan II.
Dukungan terhadap Prabowo juga disebut telah muncul sebelum Ijtima’ Ulama, antara lain dari Habib Rizieq Shihab yang saat itu dikenal sebagai Imam Besar Front Pembela Islam (FPI). Di sisi lain, Amien Rais, pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), sempat melontarkan istilah “Partai Allah” dan “Partai Syetan”. Dalam perkembangan politik berikutnya, framing tersebut mengarah pada dukungan “Partai Allah” kepada Prabowo–Sandiaga, sementara “partai Syetan” dikaitkan dengan dukungan kepada Joko Widodo–Ma’ruf Amin.
Framing bahwa pasangan 02 merupakan representasi pembela Islam dinilai berhasil menarik simpati sebagian umat Islam. Dalam pandangan kelompok tersebut, pasangan ini dianggap mampu menegakkan kehormatan Islam di Indonesia. Sebaliknya, Jokowi disebut tidak Islami, bahkan dituduh sebagai pendukung penista agama serta melakukan kriminalisasi terhadap ulama.
Meski Jokowi menggandeng KH Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden, langkah itu disebut tidak mengubah keyakinan sebagian pihak bahwa pembela Islam tetap berada pada pasangan 02.
Seiring menguatnya isu Islam menjelang pemungutan suara, muncul pula berbagai argumentasi dan klaim yang menekankan bahwa Jokowi adalah seorang Muslim yang taat. Berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan untuk kemajuan umat Islam kemudian ditonjolkan sebagai bagian dari pembentukan persepsi publik.
Di saat yang sama, pemberitaan di media juga menyoroti pertanyaan tentang siapa yang lebih “Islami” di antara kedua pasangan. Salah satu poin yang disorot berkaitan dengan Prabowo Subianto, termasuk beredarnya video yang memperlihatkan dirinya menghadiri perayaan Natal keluarga. Muncul pula informasi bahwa dalam keluarga besarnya, hanya Prabowo yang beragama Islam sementara anggota keluarga lainnya menganut Kristen.
Namun, pemberitaan mengenai latar belakang agama keluarga Prabowo dan kehadirannya dalam beberapa perayaan Natal disebut tidak mengubah pandangan sebagian pendukungnya di kalangan umat Islam. Dalam konteks inilah, Hashim Djojohadikusumo disebut mengungkap latar belakang agama keluarga tersebut di hadapan sejumlah pendeta.

