Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menggelar pertemuan diplomasi kebangsaan di National Assembly of South Korea bersama Wakil Ketua Parlemen Korea Selatan Lee Hack-young, sejumlah anggota parlemen, serta Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) Korea Selatan untuk Indonesia.
Pertemuan yang berlangsung pada Kamis (23/4) itu didampingi perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Korea Selatan, serta delegasi anggota MPR RI dan DPR RI. Agenda tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan parlemen kedua negara.
Dalam sambutannya, Ibas menyampaikan apresiasi atas sambutan dari parlemen Korea Selatan. Ia menegaskan kunjungan itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya, termasuk kunjungan Ketua National Assembly Korea Selatan Woo Won-shik ke Indonesia beberapa bulan lalu. “Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Korea Selatan semakin erat dan strategis,” kata Ibas dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Ibas juga menekankan peran kedua negara sebagai anggota G20 dan APEC dalam mendorong demokrasi, ekonomi hijau, serta perdamaian dunia. Menurutnya, hubungan Indonesia dan Korea Selatan yang telah terjalin lebih dari lima dekade dibangun atas dasar saling menghormati, kepercayaan, dan nilai bersama.
Ia menyebut sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kerja sama kedua negara terus berkembang di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, pendidikan, hingga pertahanan. Ibas juga menyoroti pentingnya kesinambungan hubungan bilateral di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Lee Jae-myung, yang dinilainya membuka peluang besar bagi penguatan kemitraan strategis.
Dalam forum tersebut, Ibas memperkenalkan delegasi Indonesia yang terdiri atas anggota MPR RI dan DPR RI lintas komisi, yang membidangi hubungan luar negeri, pertahanan, ekonomi, energi, hingga industri kreatif. Ia menegaskan Indonesia dan Korea Selatan memiliki keunggulan yang saling melengkapi: Indonesia dengan sumber daya alam, bonus demografi, serta keberagaman budaya, sementara Korea Selatan unggul dalam teknologi, inovasi, dan pengaruh budaya global.
Menurut Ibas, hubungan kedua negara tidak hanya terbatas pada kerja sama antar pemerintah, tetapi juga mencakup hubungan bisnis, parlemen, serta hubungan antarmasyarakat. “Kolaborasi bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga tentang budaya dan koneksi antarmanusia,” ujarnya.
Ibas menyinggung pengaruh budaya Korea di Indonesia, termasuk K-pop dan drama Korea seperti Autumn in My Heart dan Crash Landing on You, yang dinilainya memperkuat kedekatan emosional masyarakat kedua negara. Ia juga menyampaikan komitmen Indonesia untuk mempromosikan budaya nasional seperti batik, kuliner khas, dan seni tradisional di Korea Selatan. Pertemuan disebut berlangsung hangat, termasuk saat Ibas menyampaikan dirinya pernah menonton serial Autumn in My Heart.
Dalam pertemuan itu, Ibas menyampaikan tiga fokus ke depan, yakni memperkuat diplomasi parlemen melalui dialog dan pertukaran delegasi secara rutin, mendorong kerja sama di sektor strategis seperti ekonomi hijau, transformasi digital, dan pembangunan berkelanjutan, serta meningkatkan pertukaran budaya dan generasi muda untuk mempererat hubungan jangka panjang.
Sebagai simbol persahabatan, delegasi Indonesia menyerahkan cendera mata berupa batik dan tenun yang merepresentasikan filosofi Bhinneka Tunggal Ika. Ibas menutup pertemuan dengan menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memperkuat hubungan bilateral. “Kami yakin, bersama-sama Indonesia dan Korea Selatan dapat membangun kemitraan yang lebih kuat, berdampak, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. Gamsahamnida. Terima kasih,” ujarnya.
Dari pihak Korea Selatan, Lee Hack-young menyampaikan apresiasi atas peran aktif Ibas dalam mempererat hubungan kedua negara melalui diplomasi parlemen. Ia menyatakan Indonesia dan Korea Selatan telah membangun kerja sama erat di berbagai bidang selama lebih dari lima dekade, serta menyambut baik peningkatan status hubungan menjadi kemitraan strategis komprehensif.
Lee juga mendorong penguatan kerja sama ekonomi melalui Indonesia-Korea CEPA (IK-CEPA), dengan target peningkatan volume perdagangan dari sekitar 20 miliar dolar AS menjadi lebih dari 30 miliar dolar AS di masa mendatang. Ia turut mengapresiasi peran Indonesia sebagai pemimpin di ASEAN dan mitra strategis Korea Selatan, termasuk dalam upaya mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea.
Selain itu, ia berharap kerja sama di sektor energi, industri, teknologi tinggi, serta investasi dapat terus ditingkatkan, termasuk dukungan bagi kelancaran operasional perusahaan Korea di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Persahabatan Parlemen Korea–Indonesia Kim Gihyeon menyampaikan keyakinan bahwa hubungan kedua negara akan semakin mendalam seiring waktu dan terbuka peluang kerja sama di lebih banyak bidang. Ia juga berbagi pengalaman kunjungannya ke Indonesia pada Maret lalu, seraya berharap ada dukungan lebih besar bagi pengusaha Korea yang telah dan akan berinvestasi di Indonesia.