Indonesia dan Prancis menyepakati penguatan diplomasi budaya melalui kerja sama yang diarahkan pada langkah-langkah konkret dan berdampak jangka panjang. Komitmen itu ditegaskan dalam pertemuan tingkat menteri di Paris antara Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dan Menteri Kebudayaan Prancis Catherine Pégard.
Pertemuan bilateral tersebut merupakan tindak lanjut dari Deklarasi Borobudur, sebuah inisiatif yang sebelumnya digagas Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron. Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas perluasan kolaborasi di sejumlah sektor strategis, mulai dari pelestarian warisan budaya, pengelolaan museum, hingga penguatan industri kreatif berbasis budaya.
Sejalan dengan agenda implementasi, dua perjanjian kerja sama turut ditandatangani. Kesepakatan pertama melibatkan École du Louvre dengan Indonesia Heritage Agency (IHA). Kesepakatan kedua dijalin antara Centre des Monuments Nationaux (CMN) dan InJourney.
Fadli Zon menekankan pentingnya kerja sama yang tidak berhenti pada tataran simbolik. “Kerja sama ini harus nyata, saling menguntungkan, dan berdampak jangka panjang,” ujarnya.
Ruang lingkup kolaborasi juga mencakup pengembangan kawasan warisan dunia, termasuk Borobudur dan Prambanan. Selain itu, penguatan kapasitas museum direncanakan melalui Museum Academy, serta terdapat rencana pameran budaya Indonesia di Guimet Museum, Prancis.
Di bidang riset, Indonesia dan Prancis memperkuat kerja sama dengan École française d’Extrême-Orient (EFEO). Upaya perlindungan warisan budaya dari ancaman perubahan iklim juga menjadi bagian pembahasan melalui kerangka ALIPH.
Selain warisan budaya dan museum, kedua negara menempatkan industri kreatif sebagai salah satu fokus utama. Indonesia dan Prancis sepakat memperluas kerja sama pada sektor film, musik, seni rupa, dan sastra.