BERITA TERKINI
Industri Plastik Diversifikasi Impor Bahan Baku dari Timur Tengah, Afrika hingga Amerika Dipertimbangkan

Industri Plastik Diversifikasi Impor Bahan Baku dari Timur Tengah, Afrika hingga Amerika Dipertimbangkan

Industri plastik nasional mulai mengalihkan sumber impor bahan baku dari kawasan Timur Tengah ke negara lain setelah pasokan terganggu akibat perang Amerika Serikat–Iran. Perubahan rute pasok ini berdampak pada waktu pengiriman yang meningkat signifikan, dari sebelumnya sekitar 10–15 hari menjadi sekitar 50 hari.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) Fajar Budiyono mengatakan, pelaku industri sebenarnya sudah mengantisipasi potensi gangguan sejak akhir Februari 2026, ketika terjadi serangan ke Iran. Namun, situasi yang berubah cepat membuat kepastian pasokan semakin sulit diprediksi, terlebih bertepatan dengan periode menjelang Lebaran saat industri berfokus menjaga distribusi produk ke pasar.

Fajar menyebut gejolak terjadi dalam beberapa pekan. Pada pekan pertama, industri mulai melakukan perhitungan dampak. Namun pada pekan berikutnya harga bahan baku melonjak, lalu pada pekan ketiga sejumlah pabrik menghentikan operasi sehingga ketidakpastian pasokan kian besar.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi, pelaku industri mulai mencari alternatif sumber bahan baku dari berbagai kawasan, termasuk Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika. Meski menjadi opsi, peralihan ini turut memengaruhi efisiensi logistik dan menambah beban biaya karena waktu pengiriman yang lebih panjang.

Di sisi lain, kelangkaan bahan baku disebut menjadi pemicu kenaikan harga plastik di dalam negeri. Fajar menjelaskan, industri masih sangat bergantung pada bahan baku berbasis nafta yang selama ini banyak dipasok dari Timur Tengah. Ia menyebut sekitar 70% bahan baku plastik berasal dari nafta, sehingga gangguan pasokan dari kawasan tersebut cepat memukul ketersediaan dan harga.

Dampak kenaikan harga bahan baku juga dirasakan industri kemasan. Ketua Indonesian Packaging Federation Henky Wibawa mengatakan, lonjakan harga bahan baku plastik berpengaruh langsung terhadap biaya produksi, terutama untuk kemasan fleksibel seperti standing pouch yang banyak digunakan untuk produk minyak goreng dan beras.

Henky menjelaskan, porsi biaya bahan baku pada kemasan fleksibel bisa mencapai 50–70% dari total biaya produksi. Dengan kenaikan harga bahan baku yang disebut minimal 80%, biaya kemasan diperkirakan naik sekitar 40%. Kondisi ini membuat produsen kemasan berada pada pilihan sulit: menaikkan harga jual atau mengurangi margin keuntungan.

Menurut Henky, kenaikan biaya kemasan berpotensi memengaruhi harga produk jadi, sehingga produsen perlu mempertimbangkan elastisitas permintaan pasar. Ia menilai kolaborasi dan inovasi antara produsen kemasan dan pemilik merek diperlukan agar kenaikan biaya tidak terlalu membebani konsumen.