Dominasi saham teknologi raksasa yang selama ini dikenal dengan sebutan FAANG—Facebook, Amazon, Apple, Netflix, dan Google—mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Setelah lebih dari satu dekade menjadi penggerak utama pasar global, memasuki 2026 investor dinilai mulai mengubah pendekatan investasi.
Fokus yang sebelumnya menitikberatkan pada pertumbuhan agresif (growth) bergeser ke strategi bertahan. Dalam pendekatan baru ini, investor lebih menekankan ketahanan bisnis, arus kas yang stabil, serta valuasi yang dianggap lebih rasional.
Perubahan arah tersebut terlihat dalam rotasi besar alokasi aset global. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, saham sektor value seperti energi, industri, dan finansial disebut mulai mengungguli saham growth. Pada saat yang sama, minat investor untuk melakukan diversifikasi di luar saham teknologi Amerika Serikat juga meningkat.
Dalam periode tertentu, indeks small caps dan sektor non-teknologi bahkan mampu mengalahkan performa Nasdaq dan S&P 500. Selain itu, sekitar 87 miliar dolar AS dana global dilaporkan mengalir ke aset defensif, termasuk kas, obligasi, dan saham non-teknologi. Pergerakan ini menjadi sinyal bahwa ketergantungan pasar pada segelintir saham teknologi besar mulai berkurang.
Sejumlah faktor dinilai mendorong perubahan strategi tersebut. Pertama, valuasi saham teknologi—terutama yang terkait tren kecerdasan buatan (AI)—dianggap sudah terlalu tinggi, sehingga memunculkan kekhawatiran akan potensi koreksi. Kedua, risiko konsentrasi pasar menjadi perhatian, mengingat saham Amerika Serikat disebut menyumbang lebih dari 70% indeks MSCI World. Kondisi itu membuat gejolak pada Big Tech berpotensi mengguncang pasar global.
Ketiga, meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik hingga suku bunga tinggi, membuat investor cenderung menghindari risiko berlebih. Dampaknya terlihat dari perubahan perilaku di pasar saham: investor disebut menjadi lebih selektif dan tidak lagi menganggap semua saham teknologi akan terus naik.
Dalam situasi ini, hanya perusahaan teknologi dengan fundamental kuat, profitabilitas jelas, dan model bisnis berkelanjutan yang masih menarik minat. Artinya, fase ketika hampir seluruh saham teknologi mengalami kenaikan serentak dinilai mulai berakhir.
Di tengah ketidakpastian, diversifikasi menjadi strategi yang semakin menonjol. Dana dilaporkan mulai mengalir ke pasar Eropa dan Asia, negara berkembang (emerging markets), serta sektor riil seperti energi, infrastruktur, dan material. Sektor energi dan saham small caps juga disebut menjadi favorit baru dalam kondisi volatilitas pasar global.
Pendekatan investasi turut berkembang menjadi lebih berbasis tema, seperti transisi energi, pergeseran kekuatan ekonomi global menuju dunia multipolar, serta penyebaran teknologi. Strategi ini dipandang dapat membuat portofolio lebih tahan terhadap guncangan.
Dalam lanskap baru tersebut, investor global disebut menerapkan disiplin yang lebih ketat. Di antaranya dengan memilih saham teknologi yang sudah menghasilkan laba, melakukan diversifikasi lintas sektor, memperhatikan valuasi agar tidak masuk ke saham yang dinilai overvalued, serta memperluas eksposur global agar tidak bergantung pada pasar Amerika Serikat saja.
Perubahan ini juga tercermin dari istilah yang berkembang di pasar. Jika FAANG dulu menjadi simbol dominasi teknologi, kini muncul istilah lain seperti “BATMMAAN” yang disebut mencerminkan diversifikasi global dan lintas sektor. Fenomena tersebut mengisyaratkan bahwa kepemimpinan pasar tidak lagi terpusat pada segelintir perusahaan teknologi.
Secara keseluruhan, pergeseran strategi investor global menandai fase baru pasar keuangan: dari euforia teknologi menuju pendekatan yang lebih rasional dan berbasis fundamental. Di tengah ketidakpastian, stabilitas, profitabilitas, dan ketahanan bisnis dinilai semakin dihargai. Bagi pelaku pasar, perubahan ini menjadi sinyal bahwa strategi investasi perlu beradaptasi, karena dalam era baru ini bukan hanya soal siapa yang tumbuh paling cepat, melainkan siapa yang paling mampu bertahan.