BERITA TERKINI
Iran Nilai AS Berulang Kali Merusak Diplomasi, Teheran Klaim Kepercayaan Sudah Hilang

Iran Nilai AS Berulang Kali Merusak Diplomasi, Teheran Klaim Kepercayaan Sudah Hilang

Iran menuduh Amerika Serikat berulang kali merusak jalur diplomasi, sehingga kepercayaan Teheran terhadap komitmen Washington dalam setiap kesepakatan dinilai telah hilang. Tuduhan itu disampaikan di tengah ketegangan yang terus berulang dan kerap disertai aksi militer, yang dinilai semakin menyulitkan upaya negosiasi.

Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, mengatakan pengalaman masa lalu menjadi alasan utama hilangnya kepercayaan tersebut. “Mereka telah berulang kali mengkhianati jalur diplomasi dan meninggalkan meja perundingan,” ujar Jalali kepada wartawan, dikutip dari TASS.

Jalali menegaskan kondisi itu membuat Iran tidak lagi yakin terhadap keseriusan Amerika Serikat dalam memenuhi komitmen. “Kami tidak memiliki kepercayaan sama sekali kepada mereka,” katanya.

Meski demikian, Iran menyatakan tidak menutup pintu dialog. Jalali juga menekankan bahwa Teheran tidak pernah memulai serangan terhadap negara lain dan menyebut tindakan Iran selama ini sebagai langkah mempertahankan diri.

Riwayat perundingan Iran dan Amerika Serikat menunjukkan pola negosiasi yang berulang di tengah situasi yang tegang. Pada April hingga Mei 2025, kedua pihak sempat menggelar perundingan tidak langsung terkait program nuklir dan pencabutan sanksi.

Namun, situasi memburuk setelah Israel melancarkan serangan ke Iran pada Juni 2025, yang kemudian diikuti serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Teheran. Konflik tersebut berakhir dengan gencatan senjata setelah 12 hari pertempuran.

Pada 2026, upaya diplomasi kembali dilanjutkan melalui perantara. Pertemuan terakhir disebut berlangsung di Jenewa pada 26 Februari. Rencana pertemuan lanjutan di Wina pada Maret kemudian batal setelah operasi militer baru dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.

Rangkaian peristiwa itu memperkuat pandangan Iran bahwa diplomasi kerap berjalan bersamaan dengan tekanan militer. Dalam kondisi tersebut, faktor kepercayaan disebut menjadi elemen paling rapuh dalam setiap upaya mencapai kesepakatan antara kedua negara.