JAKARTA — Rencana Uni Eropa (UE) untuk memanfaatkan aset Rusia yang dibekukan sebagai sumber pembiayaan bagi Ukraina mengemuka dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dewan Eropa yang berlangsung hingga Jumat dini hari. Namun, setelah hampir 17 jam perundingan intensif, para pemimpin UE memutuskan meninggalkan opsi tersebut dan beralih ke skema pendanaan alternatif untuk dukungan ke Kyiv.
Italia disebut memainkan peran kunci dalam perubahan arah itu. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni memimpin penolakan yang sejalan dengan keberatan Belgia terkait penggunaan aset Rusia yang tersimpan di Euroclear, Brussels. Sikap ini juga berdampak pada agenda Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, yang sebelumnya mendorong pemanfaatan aset Rusia sebagai jaminan pinjaman.
“Saya senang akal sehat menang. Kami berhasil mengamankan sumber daya yang dibutuhkan Ukraina, tetapi melalui solusi yang memiliki dasar hukum dan keuangan yang kokoh,” kata Meloni kepada wartawan usai KTT, dikutip dari Anadolu Ajansi, Minggu (21/12/2025).
Meloni menegaskan posisi Italia yang menolak pendekatan yang dinilai berisiko secara hukum. Sebagai jalan tengah, UE menyepakati penerbitan utang bersama senilai 90 miliar euro yang dijamin oleh anggaran bersama untuk mendukung Ukraina pada 2026–2027.
Kesepakatan itu dicapai setelah Perdana Menteri Belgia Bart De Wever menolak keras penggunaan aset Rusia sebagai jaminan, dengan alasan belum adanya perlindungan hukum jangka panjang.

