BERITA TERKINI
Kadin Dorong Kerja Sama Ekonomi Islam Asia Pasifik, Potensi Ekonomi Halal Dinilai Terus Membesar

Kadin Dorong Kerja Sama Ekonomi Islam Asia Pasifik, Potensi Ekonomi Halal Dinilai Terus Membesar

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mendorong penguatan kerja sama ekonomi Islam di kawasan Asia Pasifik. Menurutnya, potensi ekonomi halal global sangat besar dan perlu dimanfaatkan Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun, dalam tiga hingga empat tahun ke depan nilai sektor halal diperkirakan menembus lebih dari 3 triliun dolar AS. Sementara itu, aset keuangan syariah berada di kisaran 5 hingga 8 triliun dolar AS.

Anindya, yang akrab disapa Anin, menilai Indonesia membutuhkan narasi pertumbuhan ekonomi yang kuat. Ia menyinggung target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional bertahap hingga 8 persen di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

“Indonesia saat ini membutuhkan growth story yang kuat. Presiden menargetkan pertumbuhan bertahap menuju 8 persen, dan dalam situasi global yang penuh tantangan, kita membutuhkan mitra yang banyak, yang reliable, dan memiliki semangat untuk maju bersama,” kata Anin dalam keterangannya, dikutip Selasa (28/4/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Anin menyampaikan ucapan selamat kepada Arsjad Rasjid atas penunjukannya sebagai Chairman B57+ Asia-Pacific Regional Chapter. Ia menyebut penunjukan tersebut menjadi kebanggaan bagi Indonesia mengingat cakupan kawasan Asia Pasifik yang luas.

“Ini adalah kebanggaan bagi Indonesia. Asia Pasifik bukan hanya Indonesia atau Asia Tenggara, tetapi seluruh kawasan, dan memiliki wakil yang tepat seperti Pak Arsjad tentu patut kita dukung dan banggakan,” ujarnya.

Anin menjelaskan, B57+ merupakan kelompok strategis yang tidak hanya beranggotakan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), tetapi juga terhubung dengan Islamic Chamber of Commerce and Development. Karena itu, forum tersebut dinilai berpotensi menjadi mitra untuk pengembangan industri halal dan keuangan syariah.

“Ini adalah reliable dan prospective partner untuk mengembangkan industri halal dan Islamic finance. Indonesia sebagai negara muslim terbesar membutuhkan kesejahteraan yang bisa dirasakan hingga ke pelosok daerah,” kata Anin.

Sementara itu, Arsjad Rasjid menyatakan ekonomi halal kini menjadi “bahasa bisnis” yang bersifat universal. Menurutnya, sektor ini tidak hanya ditujukan bagi komunitas Muslim, tetapi juga diterima lebih luas karena menjunjung transparansi dan jaminan kualitas.

Meski demikian, Arsjad mengingatkan potensi besar tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi manfaat ekonomi. Salah satu tantangan utama yang ia soroti adalah konektivitas antarnegara yang belum optimal, khususnya di antara anggota OKI dan mitra strategisnya.

“Kita melihat ini terjadi di seluruh dunia, di sektor pariwisata, supply chain, hingga keuangan syariah yang berkembang pesat di berbagai negara. Ekonomi halal adalah bahasa bisnis yang semakin universal inklusif, tumbuh, dan relevan bagi semua,” pungkas Arsjad.