Berlin—Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Uni Eropa (UE) untuk bertransformasi menjadi aliansi pertahanan Eropa di tengah meningkatnya tantangan keamanan global. Pernyataan itu disampaikan Merz dalam sebuah forum bisnis yang diselenggarakan harian Suddeutsche Zeitung pada Senin, 17 November.
Merz menilai Eropa perlu mengambil langkah baru untuk menghadapi perang di Ukraina, perubahan dalam hubungan Euro-Atlantik, serta sikap Tiongkok yang disebutnya semakin agresif. Ia menekankan bahwa Eropa tidak lagi bisa menggantungkan diri pada pihak lain untuk kebutuhan-kebutuhan strategisnya.
“Kita tidak bisa lagi bergantung pada AS untuk membela kita, pada Tiongkok untuk memasok bahan mentah, atau pada Rusia untuk suatu saat kembali ke jalur perdamaian. Dunia berubah, dan Eropa harus merespons,” ujar Merz.
Menurutnya, perubahan arah UE menuju aliansi pertahanan merupakan kebutuhan mendesak. “Kita menghadapi tantangan internasional yang harus kita tangani bersama sebagai orang Eropa dengan kemampuan untuk mempertahankan diri,” katanya.
Merz juga menyinggung peran Jerman sebagai ekonomi terbesar dan negara berpenduduk paling banyak di UE. Ia mengatakan Berlin harus memikul tanggung jawab lebih besar dalam kepemimpinan di dalam blok tersebut, seraya menegaskan bahwa kepemimpinan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.
Dalam pidatonya, Merz menyebut Rusia sebagai ancaman terbesar bagi Eropa. Ia menilai tindakan Moskow melampaui Ukraina melalui serangan hibrida harian yang menyasar demokrasi liberal Eropa. “Ancaman terhadap Ukraina bukan sekadar ancaman teritorial terhadap sebuah negara Eropa. Ini ancaman terus-menerus terhadap demokrasi, kebebasan, serta cara hidup dan bekerja kita,” ujarnya.
Ia menuding Rusia melakukan pelanggaran ruang udara dengan drone serta serangan siber terhadap bisnis-bisnis Eropa dan Jerman. Rusia secara konsisten membantah tuduhan tersebut, meski insiden serupa disebut semakin sering terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Merz turut menyoroti hubungan transatlantik yang dinilainya memburuk di bawah Presiden AS Donald Trump, terutama terkait kebijakan luar negeri sepihak dan pemberlakuan tarif yang menargetkan ekonomi Eropa. “Perselisihan tarif dengan AS jauh lebih dari sekadar perbedaan dagang. Itu membuka keretakan besar di seberang Atlantik, mempertanyakan banyak hal, nyaris segalanya yang selama puluhan tahun kita anggap benar dan penting dalam hubungan transatlantik,” kata Merz.
Selain itu, ia menyampaikan kekhawatiran terhadap perkembangan geopolitik di Asia Tenggara. Merz menyatakan “Tiongkok semakin represif di dalam negeri dan lebih agresif ke luar,” yang menurutnya menempatkan hubungan Eropa–Beijing pada jalur yang kian sulit.
Menutup pidatonya, Merz mengatakan dunia berada di titik balik yang menandai berakhirnya tatanan global lama dan munculnya sistem baru. Ia menilai perubahan itu memaksa Eropa memilih antara menjadi penonton atau ikut membentuk arah tatanan baru tersebut.
“Kita sedang menyaksikan pergeseran fundamental dalam kekuatan politik dan ekonomi global, sehingga kita harus menentukan apakah ingin tetap menjadi objek pasif atau menjadi pelaku aktif dalam membentuk tatanan politik masa depan,” ujarnya. Merz menambahkan, “Kita belum tahu seperti apa bentuknya dalam beberapa tahun ke depan. Tetapi kita dengan cukup yakin mengetahui bahwa tatanan yang dialami Barat selama 80 tahun terakhir kini telah berakhir.”
Merz menekankan pentingnya reformasi dan persatuan UE agar mampu tampil sebagai aktor besar dalam konfigurasi global yang baru.

