Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Tunisia menggelar diskusi buku Dialog Santai di Pinggir Danau dalam rangka Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40 di Elkram, Tunis, pada 27 April. Buku tersebut memuat dialog antara wartawan senior Tunisia Muhammad Mathri Shumayda dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, yang berisi sekitar 100 pertanyaan dan jawaban.
Kegiatan ini dihadiri ratusan warga Tunisia yang memadati Paviliun Indonesia, yang berstatus sebagai Tamu Kehormatan dalam pameran tersebut.
Dalam diskusi, Dubes Zuhairi Misrawi menekankan pentingnya dialog dalam diplomasi. Menurutnya, diplomasi pada dasarnya merupakan seni berdialog, bernegosiasi, dan mencari titik temu, sehingga membutuhkan kesetaraan, ketulusan, serta keterbukaan.
Ia juga menilai kemampuan berdialog secara santai merupakan keterampilan penting bagi seorang diplomat, dengan tetap berfokus pada substansi. Zuhairi menyampaikan bahwa diplomasi berisiko gagal apabila dipahami sebagai upaya untuk mendikte, mengalahkan, atau menjajah pihak lain.
Zuhairi menambahkan, saat ini dunia berada pada kondisi yang ia sebut sebagai momen nadir akibat matinya diplomasi. Ia mengatakan, ketika perang dijadikan pilihan, diplomasi dapat mati atau sengaja dimatikan. Karena itu, ia memandang dialog dari hati ke hati sebagai pilihan terbaik.
Menurutnya, tema diplomasi juga sangat luas, mencakup berbagai bidang seperti politik, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, pariwisata, ketenagakerjaan, hingga hukum.
Sementara itu, Muhammad Mathri Shumayda menyebut dialog dalam buku tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi berkaitan erat dengan upaya memanusiakan manusia. Ia menilai diplomasi merupakan bagian dari kehidupan dan dapat membantu mewujudkan kehidupan yang lebih adil, nyaman, dan damai.