Dunia tengah menghadapi krisis kelangkaan chip semikonduktor yang dipicu lonjakan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini membuat produsen chip memprioritaskan pasokan untuk kebutuhan AI dan mengurangi produksi chip konvensional yang selama ini banyak digunakan pada perangkat elektronik konsumen, seperti ponsel, komputer, dan peralatan rumah tangga.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan kapasitas produksi mendorong harga chip naik tajam. Baik chip untuk AI maupun chip non-AI sama-sama diminati, sementara kemampuan produksi belum mampu mengejar kebutuhan pasar.
Dampak krisis tersebut berpotensi dirasakan di Indonesia. Associate Market Analyst Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, menyampaikan kenaikan harga chip di pasar internasional dapat mendorong kenaikan harga gadget di dalam negeri, terutama ponsel dengan harga terjangkau. Menurutnya, sejak awal tahun sudah terlihat penyesuaian harga pada sejumlah merek dan model terbaru.
IDC menilai segmen ponsel murah berisiko menjadi yang paling terdampak karena margin keuntungan di kelas ini relatif tipis. Dengan ruang yang terbatas untuk menyerap kenaikan biaya produksi, produsen dinilai lebih sulit menahan kenaikan harga sehingga penyesuaian harga akan lebih terasa di segmen tersebut.
Untuk segmen menengah hingga premium, produsen dinilai masih memiliki ruang penyesuaian. Namun, sebagian kenaikan biaya tetap berpotensi diteruskan ke konsumen, salah satunya melalui perubahan spesifikasi agar biaya produksi tetap terkendali.
IDC juga memperkirakan konsumen akan merasakan dampak kenaikan harga secara langsung di pasar. Artinya, pembeli kemungkinan perlu menyiapkan anggaran lebih besar untuk mendapatkan perangkat yang diinginkan.
Sejumlah produsen mulai mengonfirmasi rencana penyesuaian harga. Vivo Indonesia menyatakan akan menaikkan harga beberapa produknya di Tanah Air setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk biaya komponen, dengan besaran kenaikan yang berbeda untuk tiap seri dan segmen.
ASUS Indonesia juga menyampaikan akan melakukan penyesuaian harga laptop akibat dinamika rantai pasok global. Kebijakan ini disebut bertujuan menjaga kesinambungan pasokan dan kualitas produk, serta akan berlaku merata di seluruh segmen laptop ASUS mulai kuartal pertama 2026.
Terkait prospek harga chip global, IDC memperkirakan kelangkaan memori masih akan berlanjut dan bahkan memburuk pada semester pertama 2026 seiring melebarnya kesenjangan pasokan dan permintaan. Kondisi diperkirakan mulai membaik pada semester kedua, namun harga disebut berpotensi tetap tinggi setidaknya hingga awal 2027.
Menurut IDC, situasi ini dipengaruhi masifnya pembangunan pusat data serta pergeseran investasi produsen memori ke segmen hyperscale dan AI. Pasokan memori kelas bawah seperti DDR4—yang banyak digunakan pada ponsel entry-level—terus dikurangi. Sementara itu, transisi ke DDR5 belum terjadi secara luas dan pasokannya pun lebih diprioritaskan untuk kebutuhan AI.
Di saat bersamaan, permintaan dari sektor ponsel, PC, dan otomotif—khususnya kendaraan listrik—disebut terus meningkat, yang turut memperketat kondisi pasar komponen.
Kenaikan harga perangkat baru juga diperkirakan berdampak pada pasar perangkat bekas. Pada ponsel, kenaikan harga di pasar resmi dapat mendorong permintaan second-hand dan pada akhirnya ikut mengerek harga. Sementara di pasar PC dan komponennya, dampaknya diproyeksikan lebih kuat karena ekosistem pasar bekas dinilai lebih matang.

