Dunia tengah menghadapi krisis rantai pasokan chip akibat kelangkaan komponen, seiring melonjaknya kebutuhan chip untuk teknologi kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini membuat produsen chip memprioritaskan pemenuhan permintaan chip AI, sementara produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen—seperti ponsel, komputer, dan peralatan rumah tangga—cenderung terpinggirkan.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan tersebut mendorong harga chip naik. Permintaan tinggi terjadi baik pada chip AI maupun chip konvensional, namun tidak diimbangi oleh peningkatan produksi yang memadai.
Dampak krisis chip global ini berpotensi dirasakan di Indonesia melalui kenaikan harga gadget, terutama pada segmen smartphone murah. Associate Market Analyst Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, mengatakan kenaikan harga sudah mulai terlihat pada sejumlah vendor dan model terbaru sejak awal tahun ini.
Menurut IDC, segmen ponsel berharga rendah diperkirakan menjadi yang paling terdampak karena margin keuntungan vendor di kelas ini relatif tipis, sehingga perusahaan lebih sulit menyerap kenaikan biaya komponen. Akibatnya, penyesuaian harga dinilai akan lebih kentara pada perangkat entry-level.
Sementara pada segmen menengah-atas, ruang penyesuaian masih lebih terbuka. Namun, sebagian biaya tetap berpotensi diteruskan ke harga jual. Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah menyesuaikan spesifikasi agar biaya produksi lebih terkendali.
IDC memperkirakan konsumen akan merasakan dampak kenaikan segera setelah harga baru diterapkan di pasar. Artinya, pembeli perlu menyiapkan anggaran lebih besar untuk perangkat yang ingin dibeli.
Sejumlah produsen juga menyampaikan rencana penyesuaian harga. Vivo Indonesia menyatakan akan menaikkan harga beberapa perangkat yang dipasarkan di Tanah Air. PR Manager vivo Indonesia, Alexa Tiara, mengatakan penyesuaian dilakukan berdasarkan pertimbangan menyeluruh terhadap berbagai faktor, termasuk pengelolaan biaya komponen.
Namun, kebijakan itu tidak diterapkan secara menyeluruh pada semua produk. Besaran penyesuaian disebut berbeda-beda untuk setiap segmen pada seri produk tertentu, karena tiap seri memiliki spesifikasi, struktur biaya, dan segmentasi pasar yang berbeda.
Di sisi laptop, ASUS Indonesia juga menyampaikan akan melakukan penyesuaian harga akibat dinamika rantai pasok komponen global. Head of PR and Digital Marketing ASUS Indonesia, Brama Setyadi, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pasokan serta kualitas produk bagi konsumen.
Brama menyebut penyesuaian harga akan berlaku merata di seluruh kategori segmen laptop ASUS, sehingga dampaknya dirasakan secara menyeluruh tanpa membedakan kelas produk. Penyesuaian harga laptop ASUS di Indonesia direncanakan mulai berlaku pada kuartal pertama 2026.
Terkait prospek ke depan, IDC menilai kelangkaan memori masih berlanjut dan belum ada kepastian kapan kondisi kembali normal. Pada semester I 2026, kesenjangan antara pasokan dan permintaan diperkirakan memburuk sehingga memicu kelangkaan dan harga yang lebih tinggi. Situasi diperkirakan mulai mereda pada semester II 2026, namun harga dinilai akan tetap tinggi setidaknya hingga awal 2027.
IDC menilai beberapa faktor turut mendorong lonjakan harga, antara lain pembangunan pusat data dalam skala besar untuk jangka pendek hingga menengah, serta pengalihan ekspansi kapasitas dan investasi pemain utama memori ke segmen hyperscale atau AI.
Secara khusus, pasokan atau manufaktur memori kelas bawah seperti DDR4—yang banyak digunakan pada smartphone entry-level—terus dikurangi. Sementara itu, transisi ke DDR5 belum terjadi secara masif. Kalaupun ada, pemasok disebut lebih memprioritaskan kebutuhan hyperscale atau AI.
Pada saat yang sama, permintaan dari sisi klien seperti smartphone, PC, dan perangkat lainnya, serta sektor otomotif khususnya kendaraan listrik (EV), tumbuh kuat dan ikut mendorong kebutuhan memori serta storage.
Selain pasar perangkat baru, IDC juga menilai kenaikan harga dapat merembet ke pasar perangkat bekas. Untuk smartphone, kenaikan di pasar resmi berpotensi meningkatkan permintaan ponsel second, yang pada akhirnya dapat ikut mengerek harga.

