BERITA TERKINI
Ketegangan di Bab al-Mandab Dinilai Bisa Guncang Ekonomi Dunia, Pengamat Soroti Ujian bagi Diplomasi Indonesia

Ketegangan di Bab al-Mandab Dinilai Bisa Guncang Ekonomi Dunia, Pengamat Soroti Ujian bagi Diplomasi Indonesia

Jakarta, 25 April 2026 — Ketegangan global kembali meningkat dan perhatian tidak hanya tertuju pada Selat Hormuz. Selat Bab al-Mandab, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, dinilai menjadi titik krusial yang berpotensi mengguncang ekonomi dunia apabila terjadi gangguan pelayaran.

Dalam Podcast ABI bertajuk “Selat Ini Bisa Hancurkan Ekonomi Dunia dan Yaman Pegang Kendalinya” yang tayang Jumat, 24 April 2026, pengamat geopolitik Alamsyah Kaharuddin Manu membahas posisi strategis Bab al-Mandab dalam jalur energi global, peran Yaman dan kelompok Ansarullah, serta dampak sistemik yang dapat muncul jika arus pelayaran di kawasan itu terganggu. Program tersebut dipandu Billy Joe.

Menurut Alamsyah, Bab al-Mandab merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dari Timur Tengah ke Eropa dan sebagian Asia. Karena letaknya yang sempit dan sulit digantikan dalam sistem logistik global, gangguan di jalur ini dapat mendorong kenaikan harga energi sekaligus mengacaukan rantai pasok internasional.

“Jika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya pada harga minyak. Distribusi global ikut terdampak dan berisiko memicu inflasi lintas kawasan,” kata Alamsyah.

Ia menekankan bahwa tekanan tidak harus berupa penutupan total selat. Ancaman gangguan saja dinilai cukup memicu ketidakpastian pasar dan mendorong kapal-kapal mengalihkan rute pelayaran, yang pada akhirnya meningkatkan biaya dan memperlambat distribusi.

Dalam dinamika konflik Yaman, Alamsyah menempatkan Ansarullah sebagai aktor kunci. Ia merujuk pada eskalasi konflik sejak 2015 yang disebutnya dipicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi dengan dukungan negara-negara Barat. Sejak saat itu, Yaman mengalami kerusakan luas dan krisis kemanusiaan yang diperparah blokade berkepanjangan.

Di tengah tekanan tersebut, Alamsyah menilai Ansarullah justru mengonsolidasikan kekuatan. Selain peningkatan kapasitas militer, kelompok itu disebut memperluas basis dukungan sosial di dalam negeri. “Mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga memperkuat struktur kekuatan dan memperoleh dukungan masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, Ansarullah menunjukkan basis dukungan signifikan dalam politik domestik meski tidak diakui negara-negara Barat.

Alamsyah juga menilai konflik yang berkembang tidak lagi semata mengandalkan kekuatan militer konvensional, melainkan bergeser kuat ke dimensi ekonomi. “Kontrol terhadap jalur energi memberi keuntungan strategis. Ini bentuk tekanan ekonomi yang sangat efektif,” katanya.

Dalam konteks itu, ancaman terhadap Bab al-Mandab dipandang sebagai bagian dari strategi tekanan ekonomi. Alamsyah menyebut ketegangan Iran dan Amerika Serikat turut memperbesar risiko eskalasi, dan dalam kondisi tersebut Ansarullah disebut menyatakan kesiapan terlibat lebih jauh jika konflik meluas. Ia mengaitkan perkembangan di lapangan dengan penggunaan drone dan rudal yang mendorong kapal militer maupun komersial menghindari kawasan Laut Merah.

Alamsyah menilai negara-negara Eropa paling rentan terhadap gangguan di Bab al-Mandab karena ketergantungan tinggi pada suplai energi dari Timur Tengah. Risiko dinilai meningkat apabila gangguan di Bab al-Mandab terjadi bersamaan dengan ketegangan di Selat Hormuz, yang sama-sama penting bagi distribusi energi global. Dampaknya dapat berupa lonjakan harga energi, gangguan aktivitas industri, serta inflasi dalam skala luas. Negara-negara Arab pengekspor minyak dan gas juga disebut menghadapi risiko karena jalur distribusi mereka ikut terdampak.

Di sisi lain, ia menggambarkan masyarakat Yaman telah lama hidup dalam situasi blokade, keterbatasan pangan, dan tekanan ekonomi. Kondisi itu, menurutnya, membentuk daya tahan kolektif yang kuat. “Masyarakat Yaman telah terbiasa hidup dalam kondisi sulit. Mereka memiliki ketahanan yang tidak dimiliki banyak negara lain,” kata Alamsyah.

Ia turut menyinggung perdebatan terkait relasi Ansarullah dengan Iran. Narasi yang berkembang di Barat kerap menyebut kelompok tersebut sebagai proksi. Namun, Alamsyah menyatakan Ansarullah berulang kali menegaskan keputusan politik dan militernya bersifat independen. “Mereka menyatakan tindakan yang diambil didasarkan pada kepentingan nasional dan solidaritas kawasan,” ujarnya. Relasi dengan Iran, menurut dia, lebih tepat dipahami sebagai koordinasi strategis, bukan hubungan komando langsung.

Bagi Indonesia, Alamsyah menilai potensi dampak gangguan di Bab al-Mandab maupun Hormuz bersifat langsung karena keduanya menopang distribusi energi global yang juga terkait kebutuhan domestik. Gangguan dapat meningkatkan biaya logistik, menghambat distribusi energi, dan mendorong kenaikan harga bahan bakar, yang kemudian menekan sektor industri, transportasi, serta daya beli masyarakat.

Ia menilai persoalan ini tidak berhenti pada aspek ekonomi, tetapi juga terkait arah politik luar negeri Indonesia. Alamsyah mengingatkan rekam jejak Indonesia sebagai penggagas Gerakan Non-Blok dengan prinsip bebas aktif yang memberi ruang komunikasi dengan berbagai pihak demi menjaga kepentingan nasional. Namun, ia menilai ruang itu kini semakin terbatas jika Indonesia terikat pada konfigurasi global tertentu.

“Indonesia perlu kembali pada diplomasi yang mandiri. Kepentingan nasional harus menjadi dasar utama dalam menentukan arah kebijakan luar negeri,” kata Alamsyah. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan langsung kepada negara-negara kunci, termasuk Iran, untuk menjaga kelancaran jalur perdagangan dan energi. Menurutnya, sejumlah negara tetap menjaga komunikasi bilateral dalam situasi krisis untuk memastikan kepentingan ekonominya tidak terganggu. “Dalam kondisi seperti ini, negosiasi langsung menjadi langkah yang lebih efektif dibandingkan posisi yang terlalu terikat pada blok tertentu,” ujarnya.

Selain langkah diplomasi, ia menilai pemerintah perlu mengantisipasi dampak jangka menengah melalui strategi mitigasi yang lebih kuat, termasuk diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan nasional. Ia juga berpendapat posisi Indonesia sebagai negara besar di Asia Tenggara seharusnya memberi ruang untuk memainkan peran diplomatik yang lebih aktif dan seimbang.

Alamsyah menilai meningkatnya tekanan simultan di Bab al-Mandab dan Hormuz memperbesar potensi gangguan besar terhadap sistem energi dunia dan meningkatkan risiko krisis global, terutama jika konflik berkembang lebih luas. Menurutnya, ketidakpastian diplomatik menjadi pemicu penting, di tengah ketegangan Iran–Amerika Serikat yang dinilai masih berada dalam fase rawan. “Jika eskalasi berlanjut, dampaknya tidak berhenti di kawasan. Risiko krisis global menjadi nyata,” ujarnya.

Dalam catatan redaksi, media tersebut menilai respons diplomasi Indonesia terlihat belum menunjukkan langkah terukur untuk mengamankan kepentingan nasional di Bab al-Mandab dan Hormuz. Catatan itu menyebut ketiadaan inisiatif konkret berisiko mempersempit ruang diplomasi, melemahkan posisi tawar, dan meningkatkan ketergantungan, sementara negara lain disebut bergerak cepat membuka jalur komunikasi untuk mengunci kepentingannya. Jika eskalasi berlanjut, catatan tersebut menilai dampak berupa gangguan pasokan energi, lonjakan harga, dan tekanan ekonomi domestik dapat menjadi konsekuensi nyata.