BERITA TERKINI
Ketegangan Iran–AS Meningkat, Pemerintah dan BI Perketat Antisipasi Dampak ke Ekonomi

Ketegangan Iran–AS Meningkat, Pemerintah dan BI Perketat Antisipasi Dampak ke Ekonomi

JAKARTA. Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah kembali memicu ketidakpastian global. Ketegangan yang turut menyeret Israel serta mengancam jalur strategis seperti Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia dan stabilitas pasar keuangan internasional.

Merespons dinamika tersebut, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) memperketat pengawasan terhadap stabilitas ekonomi domestik. Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi potensi tekanan pada harga energi, rantai pasok logistik, sektor pariwisata, serta nilai tukar rupiah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah terus memantau pergerakan harga komoditas dan kondisi rantai pasok. Ia menilai terdapat tiga sektor yang paling rentan terdampak gejolak di kawasan tersebut, yakni energi, transportasi logistik, dan pariwisata.

“Ya pertama yang terganggu kan pasti supply minyak, yang kedua transportasi logistik, dan yang ketiga tentunya kita melihat tourism akan sangat terganggu... dan supply minyak itu karena Selat Hormuz kan terganggu, belum juga Red Sea,” ujar Airlangga Hartarto, Selasa (3/3).

Airlangga menambahkan, penutupan Selat Hormuz oleh Iran berpotensi menimbulkan dampak serius bagi perekonomian global. Namun, ia menegaskan pemerintah telah bergerak untuk mengamankan stok energi dalam negeri dengan mencari sumber pasokan alternatif di luar kawasan Timur Tengah.

“Pemerintah telah mengamankan pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah, seperti Amerika Serikat (AS). Hal ini sejalan dengan Pertamina sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan energi raksasa asal AS, seperti Chevron dan Exxon guna memastikan stok dalam negeri aman,” katanya.

Dari sisi moneter, BI menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. BI mencermati bahwa sentimen global dapat memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menyampaikan otoritas moneter memiliki instrumen untuk memitigasi risiko melalui pemantauan jalur transmisi ekonomi. “Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Itu saya garis bawahi dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga tentang inflasi. Kami memantau tiga jalur utama, yakni harga komoditas global, pasar keuangan, dan volume perdagangan internasional,” tegas Aida, Selasa (3/3).

Pemerintah menyatakan langkah mitigasi, khususnya pada sektor energi dan stabilitas moneter, akan terus menjadi prioritas untuk meminimalkan dampak guncangan global terhadap perekonomian domestik sepanjang 2026.