BERITA TERKINI
Ketegangan Selat Hormuz Dorong Harga Minyak, Retorika Trump Disebut Hambat Perundingan AS-Iran

Ketegangan Selat Hormuz Dorong Harga Minyak, Retorika Trump Disebut Hambat Perundingan AS-Iran

Harga minyak mentah Brent melonjak hingga kisaran US$105 per barel pada Kamis, seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Situasi memanas setelah militer Amerika Serikat melaporkan pasukannya menaiki sebuah supertanker di Samudra Hindia yang membawa minyak dari Iran. Teheran merespons dengan melepaskan tembakan ke arah kapal komersial dan menyita dua kapal lainnya pada Rabu.

Di tengah eskalasi tersebut, upaya diplomasi AS-Iran dilaporkan menemui kebuntuan. Sejumlah pejabat menilai pesan-pesan publik Presiden AS Donald Trump menjadi salah satu faktor kunci yang menghambat kemajuan. Seorang diplomat Eropa yang berkomunikasi dengan negosiator Iran mengatakan dalam sehari terakhir hanya sedikit perkembangan yang tercapai.

Gedung Putih, melalui juru bicaranya, menyatakan Trump tidak berupaya menjaga perasaan para pemimpin Iran. Ia menegaskan presiden serius merundingkan kesepakatan yang dapat menjamin keamanan nasional jangka panjang AS.

Pada 7 April, sesaat sebelum gencatan senjata dimulai, Trump menyampaikan pernyataan keras: “sebuah peradaban akan mati malam ini, dan tak akan pernah kembali.” Gedung Putih menyebut bahasa tersebut justru membantu mendorong Iran menyetujui gencatan senjata.

Namun, gencatan itu kemudian diperpanjang pada Senin setelah Iran menolak mengirim delegasi ke Islamabad untuk putaran kedua perundingan. Putaran pertama yang juga digelar di Pakistan pada pertengahan April berakhir tanpa kesepakatan.

Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan kembali memimpin tim AS dalam perundingan pekan ini dan sempat bersiap terbang ke Islamabad, sebelum rencana itu dibatalkan. Jared Kushner, menantu Trump, serta utusan khusus Steve Witkoff juga disebut direncanakan bergabung.

Sejumlah unggahan Trump memicu respons keras dari Iran. Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebutnya sebagai “perang media dan rekayasa opini publik.” Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu menyatakan negaranya terbuka untuk dialog dengan AS, namun menegaskan bahwa “blokade dan ancaman menjadi hambatan utama bagi negosiasi yang sesungguhnya.”

Di internal pemerintahan AS, terdapat perbedaan pandangan mengenai langkah berikutnya. Sebagian penasihat Trump disebut ingin memperpanjang blokade, dengan alasan Iran hanya tinggal beberapa pekan dari kondisi terhenti operasional karena tidak mampu mengekspor minyak dalam volume normal. Menurut pandangan kelompok ini, tekanan ekonomi dapat memaksa konsesi lebih besar, sementara unggahan Trump di media sosial dinilai berfungsi untuk “mengulur waktu.”

Trump mengindikasikan sejalan dengan pendekatan tersebut dan menegaskan tidak berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan. “Anda tahu siapa yang berada di bawah tekanan waktu? Mereka, karena jika mereka tidak bisa menyalurkan minyaknya, seluruh infrastruktur minyak mereka akan runtuh,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office. “Anda tahu artinya—karena mereka tidak punya tempat untuk menyimpannya, dan jika harus dihentikan.”

Namun, kelompok lain di lingkaran Trump menilai momentum untuk mencari jalan keluar justru ada saat ini. Mereka memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berisiko memperdalam tekanan ekonomi domestik, yang dapat berdampak pada pemilu paruh waktu November mendatang. Kelompok ini juga menilai retorika presiden dapat menggagalkan kemajuan yang telah dicapai dalam negosiasi untuk membatasi program nuklir Iran dan membuka kembali jalur pelayaran penting tersebut dengan imbalan pelonggaran sanksi.

Juru bicara Gedung Putih menyatakan tim keamanan nasional presiden sepenuhnya sepakat untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir, dan menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan Trump.

Sementara itu, meski Trump menyatakan tidak terburu-buru dan blokade telah menekan ekonomi Iran melalui hambatan ekspor minyak, tekanan terhadapnya meningkat untuk menurunkan harga bahan bakar di dalam negeri. Lonjakan harga dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang memunculkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Menurut pejabat Arab, Iran menginginkan kesepakatan yang mencakup isu-isu lama seperti sanksi, serta program nuklir dan misil. Teheran juga menginginkan jaminan tidak akan diserang kembali dan bentuk kendali formal atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, AS dan Israel memberi sinyal tidak akan menerima tuntutan tersebut.

Meski begitu, masih ada kemungkinan Washington dan Teheran mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali selat dan mengakhiri blokade AS, sementara isu lain diselesaikan dalam negosiasi lanjutan. Sejumlah pemimpin Arab Teluk dan Eropa menilai pembahasan isu yang lebih luas dapat memakan waktu setidaknya enam bulan, sebagaimana dilaporkan Bloomberg pekan lalu.

Peneliti senior spesialis Iran di Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai gaya komunikasi Trump justru melemahkan posisinya sendiri dalam mendorong diplomasi. Menurutnya, dalam menghadapi rezim Iran, pendekatan yang efektif adalah yang tenang, tidak terbuka di media, dan tidak menyerang pemimpin Iran melalui media sosial.