BERITA TERKINI
Khutbah Jumat di Banda Aceh: Akhir Tahun Jadi Momentum Ambil Hikmah dari Tsunami 2004 dan Banjir Besar 2025

Khutbah Jumat di Banda Aceh: Akhir Tahun Jadi Momentum Ambil Hikmah dari Tsunami 2004 dan Banjir Besar 2025

Momentum akhir tahun dinilai perlu menjadi ruang perenungan bagi umat Islam untuk mengambil hikmah dari berbagai peristiwa besar. Dua tragedi yang disebut sebagai pelajaran penting adalah tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 dan banjir besar di Sumatera pada 26 November 2025.

Pesan tersebut disampaikan akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Saifuddin A Rasyid, dalam khutbah Jumat di Masjid Jamik Kopelma Darussalam, Kampus Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Jumat, 26 Desember 2025, bertepatan dengan 6 Rajab 1447 H.

Menurut Tgk Saifuddin, kedua bencana besar itu telah merenggut banyak nyawa, menghancurkan harta benda, serta merusak harapan dan masa depan masyarakat. Meski demikian, ia menekankan bahwa sebagai hamba yang beriman, umat Islam dituntut untuk berbaik sangka kepada Allah Swt dan menggali hikmah di balik setiap musibah.

“Musibah bukan sekadar peristiwa duka, tetapi juga harus kita kaji secara bersahaja dan cerdas. Mengapa Allah menimpakan musibah itu, dan apa pelajaran penting yang perlu kita ambil untuk memperbaiki langkah kehidupan kita serta generasi yang akan datang,” ujarnya.

Dalam khutbahnya, ia merujuk firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 hingga 157 yang menyebut ujian sebagai bagian dari kehidupan orang beriman. Ia mengatakan Allah menjanjikan kemudahan, kesuksesan, dan kejayaan dengan syarat terjaganya iman dan meningkatnya ketakwaan.

Namun, Tgk Saifuddin juga menyampaikan bahwa Al-Qur’an menjelaskan bencana dapat terjadi akibat ulah manusia. Ia mengutip Surah Ar-Rum ayat 41 yang menegaskan kerusakan di darat dan laut terjadi karena perbuatan tangan manusia agar mereka merasakan akibat perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar.

Terkait banjir besar di Sumatera, ia menilai peristiwa itu tidak lepas dari kesalahan tata kelola ekosistem hutan, keserakahan sebagian pengusaha, serta kekeliruan oknum pejabat yang bertindak atas nama negara. Ia juga mengingatkan masyarakat turut memikul tanggung jawab karena sikap diam dan abai yang berlangsung lama.

Selain kerusakan lingkungan, ia menilai musibah juga menjadi peringatan atas kelalaian spiritual. Ia menyinggung gaya hidup hedonis, kecintaan berlebihan pada dunia, serta sikap permisif terhadap kemaksiatan sebagai hal yang dinilainya dapat mengundang murka Allah.

“Sering kita melihat kemaksiatan dilakukan di depan mata, namun kita biarkan seolah itu hal biasa. Bahkan mungkin sebagian dari kita terlibat langsung di dalamnya. Semua itu dicatat oleh Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar aman dari musibah. Tsunami Aceh 2004 dan banjir besar 2025, menurutnya, menjadi pengingat bahwa Allah memiliki banyak “pasukan”, tidak hanya air, tetapi juga api, angin, bebatuan, dan energi lainnya. Ia merujuk peringatan dalam QS Al-A’raf ayat 96 hingga 99 agar manusia tidak merasa aman dari azab-Nya.

Dalam penutup khutbah, Tgk Saifuddin mengajak umat Islam menjadikan akhir tahun sebagai momentum evaluasi diri, termasuk mewaspadai istidraj, yakni kondisi ketika Allah membiarkan manusia terus berbuat salah tanpa segera ditegur.

“Mari berhenti dari kemaksiatan di tahun ini, bertaubat, dan tidak melanjutkannya ke tahun berikutnya. Umur kita tidak ada yang tahu,” ujarnya.

Ia juga meminta umat Islam mempersiapkan tahun mendatang dengan memperkuat pondasi iman, struktur ketakwaan, serta mengisinya dengan amal saleh. Di akhir khutbah, ia memanjatkan doa agar musibah besar seperti tsunami 2004 dan bencana ekologis 2025 tidak terulang kembali, serta agar generasi mendatang hidup dalam keberkahan dan kejayaan karena iman dan ketakwaan.