Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di San Francisco menggelar promosi budaya dan pariwisata Papua sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia di Amerika Serikat. Kegiatan ini dihadiri tamu dari beragam kalangan, mulai dari perwakilan pemerintah setempat, akademisi, pakar budaya, hingga diaspora Indonesia.
Dalam suasana yang hangat dan imersif, peserta diajak mengenal kekayaan identitas Papua, dari tradisi lisan hingga berbagai ekspresi artistik. Pada kesempatan yang sama, potensi pariwisata Papua turut diperkenalkan, termasuk destinasi seperti Raja Ampat dan Teluk Cenderawasih.
Konsul Jenderal RI di San Francisco, Yohpy Wardana, menyampaikan bahwa Papua merupakan bagian penting dari wajah Indonesia di kancah global. Menurutnya, promosi tersebut ditujukan untuk menghadirkan cerita dan nilai-nilai masyarakat Papua kepada publik internasional sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya.
“Papua adalah salah satu kawasan dengan keragaman budaya dan bahasa tertinggi di dunia. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan cerita, nilai, dan identitas masyarakat Papua secara lebih dekat kepada publik AS, sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya,” ujar Yohpy Wardana.
Ia juga mengungkapkan kedekatan personal dengan Papua karena menghabiskan masa kecil di Biak. Pengalaman itu, kata dia, membentuk apresiasi mendalam terhadap kearifan lokal dan keramahan masyarakat Papua.
Acara ini menghadirkan Guru Besar Ilmu Sastra dan Budaya Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Wigati Yektiningtyas, serta Kepala Suku Sentani, Dr. James Modouw. Keduanya membahas dinamika budaya Papua, termasuk tantangan pelestarian bahasa daerah di tengah arus modernisasi.
Dalam forum tersebut, Papua disebut memiliki lebih dari 270 bahasa daerah, sehingga menjadi salah satu wilayah dengan keragaman linguistik tertinggi di dunia. Upaya pelestarian budaya turut disoroti, antara lain melalui penerbitan karya folklor sebagai sarana pewarisan nilai kepada generasi muda.
“Kami memandang kegiatan ini sangat penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan pariwisata Papua kepada publik Amerika Serikat. Khususnya, di San Francisco,” ujar Prof. Wigati dan Dr. James.
Keunikan Papua juga ditampilkan lewat gambaran hubungan erat antara manusia dan alam, seperti yang tercermin dalam kehidupan masyarakat di sekitar Danau Sentani. Nilai-nilai tersebut dihadirkan melalui pameran lukisan kulit kayu khas Papua serta sesi diskusi interaktif yang memberikan pengalaman informatif sekaligus emosional bagi para peserta.
Menutup rangkaian kegiatan, Yohpy Wardana menegaskan komitmen KJRI San Francisco untuk terus memperkuat diplomasi budaya sebagai jembatan pemahaman global. Menurutnya, Papua tidak hanya diperkenalkan sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai warisan budaya dunia yang hidup dan terus berkembang di tengah keberagaman.