BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Tekan IHSG, OJK Diminta Perkuat Mitigasi Risiko

Konflik Timur Tengah Tekan IHSG, OJK Diminta Perkuat Mitigasi Risiko

Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan memperkuat mitigasi risiko menyusul pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipengaruhi dinamika konflik Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS). Pengetatan pengawasan dan kebijakan responsif dinilai penting untuk meredam potensi gejolak lanjutan di pasar modal.

Konsultan dan perencana keuangan Elvi Diana menilai elastisitas pasar modal Indonesia terhadap perubahan situasi global tergolong tinggi. Menurutnya, jika eskalasi konflik berlanjut, volatilitas berpotensi meningkat dan memicu aksi jual lanjutan. Ia menyebut kondisi ini perlu menjadi alarm bagi OJK untuk memperkuat langkah mitigasi risiko.

Pada perdagangan Rabu pagi, IHSG tercatat melemah 43,39 poin atau 0,55 persen ke posisi 7.896,38. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turun 3,29 poin atau 0,41 persen ke posisi 802,31.

Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya sikap risk-off investor, yakni kecenderungan menghindari aset berisiko, di tengah antisipasi kenaikan harga minyak mentah global. Elvi menjelaskan, dampak konflik geopolitik umumnya menjalar melalui beberapa jalur, seperti lonjakan harga minyak dunia, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta keluarnya aliran dana asing dari pasar negara berkembang.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memperburuk sentimen investor dan menekan indeks saham domestik. Karena itu, Elvi menekankan perlunya koordinasi yang erat antara OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk menjaga kepercayaan pasar.

Menurutnya, stabilitas psikologis investor sama pentingnya dengan fundamental ekonomi. OJK dinilai perlu memastikan mekanisme pengawasan berjalan optimal serta menyiapkan kebijakan yang responsif untuk meredam gejolak.

Elvi juga mengimbau investor ritel agar tidak panik menghadapi fluktuasi jangka pendek. Ia menyarankan strategi diversifikasi portofolio dan disiplin investasi jangka panjang sebagai kunci menghadapi periode volatilitas tinggi, dengan keputusan investasi tetap berbasis analisis fundamental dan manajemen risiko yang baik.

Ia berharap langkah antisipatif yang cepat dan terukur dari OJK dapat membantu menjaga stabilitas pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang kian kompleks.