Konsep Free and Open Indo-Pacific (FOIP) dinilai menjadi upaya untuk memperkuat kerja sama kawasan antara Jepang dan Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya posisi Indonesia di jalur strategis Indo-Pasifik. Penilaian itu disampaikan Kuasa Usaha ad interim Jepang untuk Indonesia, Myochin Mitsuru, di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Myochin menjelaskan, kawasan Indo-Pasifik mencakup konektivitas yang lebih luas, termasuk jalur strategis dari Timur Tengah hingga Asia Timur. Jalur tersebut dilalui berbagai komoditas penting, seperti energi.
Menurutnya, jalur itu melewati sejumlah titik krusial, salah satunya Selat Malaka yang berbatasan dengan Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Ia menilai keberadaan titik-titik strategis tersebut membuat peran Indonesia penting dalam dinamika kawasan Indo-Pasifik.
Ia juga menyampaikan bahwa gagasan FOIP berangkat dari kebutuhan memperluas cara pandang terhadap kawasan yang sebelumnya lebih dikenal sebagai Asia-Pasifik. Menurut Myochin, istilah Asia-Pasifik kini dinilai tidak lagi cukup untuk menggambarkan kompleksitas geopolitik dan ekonomi yang terus berkembang.
Dalam konteks hubungan bilateral, Myochin menyinggung pernyataan bersama Indonesia dan Jepang pada September 2023. Dalam pernyataan itu, kedua negara menegaskan kesepakatan untuk memperkuat sinergi antara FOIP dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP).
Ia menambahkan, kerja sama tersebut telah diwujudkan melalui sejumlah proyek konkret, salah satunya pengembangan Pelabuhan Patimban. Selain itu, Jepang juga disebut terus mendukung pengembangan kapasitas serta infrastruktur transportasi.