Gubernur Bali Wayan Koster menyambut positif penjajakan berbagai peluang kerja sama antara Pemerintah Provinsi Bali dan Swiss dalam pertemuan resmi bersama Wakil Duta Besar Swiss untuk Indonesia Mathias Domenig serta Konsul Jenderal Swiss di Bali Gerhard L. Nutz. Pertemuan berlangsung di Jayasabha, Denpasar, Jumat (24/4) pagi, sekaligus dalam rangka momentum peringatan 70 tahun hubungan bilateral Indonesia–Swiss.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menyatakan komitmen untuk memperkuat kolaborasi di sejumlah sektor strategis, mulai dari pendidikan vokasi, infrastruktur, energi, hingga pengembangan UMKM dan perdagangan internasional. Domenig menilai Bali memiliki posisi istimewa di mata dunia dan menyebut hubungan Swiss dengan Bali selama ini berjalan baik dan harmonis.
“Bali sangat spesial. Hubungan ini sangat membahagiakan bagi kami, terlebih dalam rangkaian 70 tahun hubungan bilateral Indonesia dengan Swiss. Kedekatan ini menjadi tanda hubungan yang sangat baik,” ujar Domenig. Ia juga mengapresiasi kepemimpinan Koster dalam mengelola Bali sebagai destinasi global yang terus dikunjungi wisatawan dari berbagai negara. “Kami selalu penasaran dan kagum dengan bagaimana cara Pak Gubernur me-manage Bali yang selalu didatangi oleh orang dari seluruh dunia,” katanya.
Domenig turut menyinggung keberadaan komunitas warga Swiss di Bali, baik wisatawan maupun pelaku usaha, yang dinilai berintegrasi dengan baik di tengah masyarakat lokal. Menurutnya, mereka menghormati budaya Bali, berperilaku tertib, dan tidak menimbulkan persoalan sosial.
Dalam kerja sama konkret, Swiss telah menjalin kemitraan dengan Politeknik Negeri Bali untuk pengembangan pendidikan vokasi, khususnya dalam penyusunan kurikulum dan pelatihan berbasis kebutuhan industri. Selain itu, Swiss disebut memiliki program kolaborasi dengan Bank Dunia di sektor infrastruktur dan energi, serta dukungan terhadap UMKM melalui kerja sama dengan organisasi internasional.
Domenig juga membuka peluang lebih luas bagi produk lokal Bali untuk masuk ke pasar Swiss, termasuk menawarkan fasilitasi pertemuan dengan pelaku usaha dan jaringan di Swiss untuk memperkuat akses perdagangan. “Kami melihat banyak ruang untuk perdagangan antara Bali dan Swiss. Produk lokal Bali memiliki potensi besar untuk berkembang di pasar Swiss,” ujarnya.
Selain perdagangan, Swiss menyatakan kesiapan berbagi pengalaman dalam penanganan isu perkotaan seperti kemacetan dan pengelolaan sampah, yang disebut menjadi dua tantangan utama Bali seiring meningkatnya jumlah wisatawan.
Menanggapi hal itu, Koster menyampaikan apresiasi atas perhatian dan komitmen Pemerintah Swiss dalam memperkuat hubungan dengan Bali. Ia menegaskan kerja sama internasional dinilai penting untuk mendukung transformasi pariwisata Bali menuju arah yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. “Suatu kehormatan bagi kami di Bali. Hubungan Bali dengan Swiss sangat baik, apalagi Bapak Konsul sangat komunikatif dengan kami,” ujar Koster.
Koster juga menyebut jumlah wisatawan asal Swiss yang berkunjung ke Bali mencapai lebih dari 40 ribu orang pada tahun lalu. Menurutnya, wisatawan Swiss dikenal tertib, menghormati budaya lokal, dan berkontribusi positif bagi citra pariwisata Bali. “WNA Swiss sangat menjunjung tinggi kebudayaan lokal, sopan, dan tidak pernah membuat masalah. Sangat respek dengan Bali,” tegasnya.
Lebih lanjut, Koster menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Bali tengah fokus mengembangkan pariwisata berkualitas berbasis budaya serta memperkuat sektor UMKM lokal. Ia menilai kreativitas masyarakat Bali perlu terus didorong agar mampu bersaing di pasar global. Koster juga menyinggung tantangan kemacetan dan lingkungan di tengah kunjungan lebih dari 7 juta wisatawan mancanegara setiap tahun, sehingga pembangunan infrastruktur berkualitas menjadi prioritas untuk menunjang pariwisata kelas dunia.
Di akhir pertemuan, Koster menyuguhkan kopi khas Bali yang dipadukan dengan minuman tradisional arak Bali kepada Wakil Dubes Swiss. Sajian tersebut disambut hangat oleh Domenig. “Rasanya sangat enak, very nice,” ujar Domenig. Koster juga menyerahkan cinderamata berupa kain endek dan arak Bali sebagai simbol persahabatan dan penghormatan budaya.