BRUSSELS — Para pemimpin Uni Eropa (UE) menyepakati penguatan dukungan bagi Ukraina dalam pertemuan puncak di Brussels, di tengah meningkatnya ketegangan global. Dalam pernyataan dan pembahasan tertutup, mereka mendorong pengiriman sistem pertahanan udara, perangkat antidrone, serta amunisi kaliber besar untuk membantu Ukraina menghadapi serangan Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengikuti pertemuan secara virtual. Kehadirannya menegaskan bahwa perang masih menjadi agenda utama, sekaligus menggarisbawahi kebutuhan Kyiv akan dukungan yang lebih nyata di lapangan.
Namun, upaya mengesahkan sanksi tambahan terhadap Rusia kembali tersendat. Rencana yang antara lain menargetkan “armada bayangan” kapal tanker minyak—yang dinilai masih memberi pemasukan bagi Kremlin—tidak menghasilkan keputusan baru. Penolakan Hungaria menjadi penghambat utama, dengan Perdana Menteri Viktor Orbán menyatakan bahwa “NATO tak punya urusan di Ukraina.”
Meski tanpa paket sanksi baru, sejumlah pemimpin UE tetap menyoroti kemajuan reformasi Ukraina dalam proses menuju keanggotaan Uni Eropa. Bagi Ukraina, dukungan politik dan pujian atas reformasi tetap berjalan, tetapi tidak serta-merta menjawab kebutuhan mendesak di medan perang.
Di garis depan yang membentang lebih dari 1.000 kilometer, pertempuran terus berlangsung. Rusia disebut memperoleh keuntungan geografis, namun dengan biaya besar berupa korban jiwa dan kerugian peralatan. Sementara itu, Ukraina tetap bertahan meski kalah jumlah dalam personel dan persenjataan, antara lain dengan mengandalkan strategi dan penggunaan drone.
Selain perang bersenjata, KTT juga dibayangi ancaman perang tarif dengan Amerika Serikat. Menjelang tenggat 9 Juli, UE dikejar waktu untuk menyelesaikan sengketa dagang dengan Washington. Presiden AS Donald Trump mengancam tarif tambahan besar hingga 50% untuk produk tertentu, termasuk mobil serta baja dan aluminium dari Eropa.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan UE siap mencapai kesepakatan, namun juga menyiapkan langkah jika negosiasi gagal. “Kami siap untuk membuat kesepakatan. Tapi kami juga siap untuk skenario terburuk. Semua opsi masih di atas meja,” ujarnya. Uni Eropa juga telah menyiapkan daftar produk Amerika Serikat yang dapat dikenai tarif balasan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan UE tidak akan menerima kesepakatan yang dinilai terlalu merugikan. Ia menyatakan bahwa jika tarif diberlakukan, Eropa akan membalas. Sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz menekankan perlunya penyelesaian yang cepat dan sederhana, dengan mempertimbangkan dampak bagi sektor otomotif, farmasi, dan teknik Jerman.
Di sisi lain, situasi di Gaza turut menjadi sorotan. Para pemimpin UE menyampaikan kekhawatiran atas tingginya korban sipil, meluasnya kelaparan, serta dampak blokade terhadap warga Palestina. UE menyerukan agar Israel membuka sepenuhnya blokade bantuan. Namun, perbedaan sikap di antara negara-negara anggota kembali menyulitkan langkah konkret.
Dalam pernyataan akhir, isu kerja sama dengan Israel tidak menghasilkan kesepakatan yang tegas. Para pemimpin hanya “mengakui” adanya laporan internal yang menyatakan tindakan Israel di Gaza melanggar prinsip kerja sama Uni Eropa.
Di tengah sejumlah kebuntuan, KTT menghasilkan satu keputusan yang dipandang sebagai kabar positif bagi Bulgaria. Negara Balkan itu diizinkan menggunakan mata uang euro mulai 1 Januari 2026, sehingga menjadi anggota ke-21 zona euro. Langkah tersebut dinilai membawa harapan baru bagi salah satu negara termiskin di Eropa.

