Para pemimpin Uni Eropa sepakat mengecam serangan hibrida yang menargetkan blok tersebut dan menyebut Rusia serta Belarus sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sikap itu disampaikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa di Brussels, yang turut membahas langkah memperkuat ketahanan kawasan menghadapi ancaman siber, disinformasi, serta sabotase terhadap infrastruktur utama.
Dewan Eropa menilai perang di Ukraina telah menjadi tantangan besar bagi keamanan Eropa dan dunia. Dalam pertemuan itu, para pemimpin berkomitmen mempercepat perlindungan terhadap infrastruktur penting, sekaligus meningkatkan kemampuan untuk mencegah dan merespons ancaman hibrida.
Uni Eropa juga membuka peluang untuk menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Rusia dan Belarus sebagai bagian dari langkah pengamanan.
Selain itu, KTT meninjau perkembangan upaya pengurangan ketergantungan strategis dan kebutuhan pertahanan yang dinilai masih belum terpenuhi. Pembahasan tersebut dipandang penting untuk memperkuat posisi keamanan Uni Eropa secara keseluruhan, terutama di tengah dampak konflik yang masih berlangsung.
Dalam isu Timur Tengah, para pemimpin Uni Eropa menyoroti situasi di Palestina dan Israel. Mereka mengecam meningkatnya kekerasan pemukim terhadap warga Palestina serta menolak kebijakan pengusiran paksa dan aneksasi di Tepi Barat. Uni Eropa menegaskan dukungan terhadap solusi dua negara dan menyerukan distribusi bantuan kemanusiaan yang cepat dan aman di Gaza.
Terkait Suriah, Uni Eropa menyatakan dukungan terhadap transisi yang damai dan inklusif menyusul perubahan politik di negara itu. Uni Eropa juga memperingatkan agar tidak terjadi campur tangan asing, serta menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Suriah.

