Ancaman kejahatan siber di sektor finansial pada 2026 dinilai kian mengkhawatirkan. Laporan terbaru Kaspersky menyebut lebih dari satu juta akun perbankan online dari 100 bank terbesar di dunia menjadi korban peretasan malware jenis infostealer sepanjang tahun lalu.
Temuan tersebut mengindikasikan pergeseran strategi pelaku kejahatan siber. Jika sebelumnya serangan banyak mengandalkan malware perbankan tradisional, kini pelaku lebih berfokus pada pencurian kredensial seperti data login, lalu memanfaatkan ulang data tersebut melalui pasar gelap atau dark web.
Berdasarkan data Kaspersky Digital Footprint Intelligence (DFI), deteksi infostealer pada PC meningkat 59% secara global. Namun, kawasan Asia Pasifik mencatat lonjakan paling tinggi, yakni 132%.
Infostealer bekerja dengan mengumpulkan beragam data sensitif dari perangkat korban, mulai dari username dan password, cookie, informasi kartu bank, hingga frasa kunci aset kripto.
Selain malware, teknik phishing melalui situs palsu masih menjadi salah satu metode yang sering digunakan. Kaspersky mencatat perubahan pola target: toko online palsu mendominasi 48,5% (naik 10,3%), diikuti sistem pembayaran 25,5% (naik 6,2%). Sementara itu, phishing perbankan turun menjadi 26,1%.
Penurunan pada phishing perbankan disebut bukan berarti sektor perbankan sepenuhnya aman. Kaspersky menilai, hal itu terjadi karena sistem keamanan bank semakin sulit ditembus, sehingga pelaku beralih mencari celah yang lebih mudah, termasuk melalui platform belanja online.
Hingga Maret 2026, sekitar 74% data kartu pembayaran yang dicuri tercatat masih berstatus aktif di dark web. Kondisi ini menunjukkan data yang sudah bocor berbulan-bulan sebelumnya tetap berpotensi disalahgunakan.
“Dark web kini menjadi pusat utama aktivitas kejahatan siber. Data yang dicuri dikemas ulang dan dijual kembali, bahkan perangkat phishing kini tersedia sebagai layanan siap pakai bagi penipu pemula,” ujar analis Kaspersky, Polina Tretyak.
Untuk mengurangi risiko menjadi korban, Kaspersky menganjurkan sejumlah langkah pencegahan, antara lain menggunakan autentikasi multifaktor (2FA), membuat kata sandi yang kuat dan unik serta menyimpannya di password manager, tidak sembarang mengklik tautan mencurigakan dengan selalu memverifikasi keaslian situs sebelum memasukkan data, serta menggunakan solusi keamanan pada perangkat.