BERITA TERKINI
Lima Faktor yang Diproyeksikan Membentuk Pasar Global 2026: Suku Bunga, AI, China, Properti, dan Geopolitik

Lima Faktor yang Diproyeksikan Membentuk Pasar Global 2026: Suku Bunga, AI, China, Properti, dan Geopolitik

Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode penting bagi pasar keuangan dan pengambilan keputusan bisnis, dengan sejumlah faktor yang dinilai berpotensi memengaruhi arus investasi dan kondisi ekonomi global. Dalam sebuah paparan, setidaknya ada lima isu besar yang disebut layak menjadi perhatian: arah suku bunga global, ledakan aplikasi kecerdasan buatan (AI), penguatan AI China, perubahan struktur pasar perumahan, serta meningkatnya gejolak geopolitik.

Faktor pertama adalah potensi penurunan suku bunga secara global. Disebutkan bahwa negara-negara utama diperkirakan memulai putaran baru pelonggaran kebijakan moneter. Dalam paparan tersebut, Federal Reserve diperkirakan telah menurunkan suku bunga tiga kali pada paruh kedua 2025, yakni pada September, Oktober, dan Desember. Untuk 2026, The Fed diproyeksikan dapat kembali memangkas suku bunga sebanyak dua hingga lima kali.

Penjelasan yang disampaikan menekankan adanya perbedaan kondisi di ekonomi Amerika Serikat: sektor teknologi, khususnya AI, dinilai kuat, sementara sektor manufaktur tradisional disebut melemah. Kenaikan inflasi, biaya tenaga kerja, dan harga rumah dalam beberapa tahun terakhir disebut turut menekan daya saing manufaktur AS, yang dikaitkan dengan penurunan pesanan manufaktur dan kenaikan tingkat pengangguran.

Dari sisi China, kebijakan moneter 2026 disebut mengarah ke stance yang “moderately loose” sebagaimana tertulis dalam dokumen rapat kerja ekonomi pusat. Dengan pertimbangan stabilisasi ekonomi dan dinamika harga, China juga disebut berpotensi menurunkan suku bunga.

Jepang turut dibahas, khususnya terkait kenaikan suku bunga yang dikhawatirkan sebagian pelaku pasar dapat memicu arus modal kembali ke Jepang dan menekan pasar saham negara lain. Namun, dalam paparan tersebut dampaknya dinilai terbatas. Disebutkan pula prediksi bahwa ekonomi Jepang berpotensi memasuki resesi dalam enam bulan, yang pada akhirnya dapat mendorong Jepang kembali ke arah penurunan suku bunga.

Faktor kedua adalah ledakan aplikasi “super AI”. AI disebut sebagai gelombang revolusi teknologi baru yang mulai menguat sejak 2022, didorong oleh meluasnya kapasitas komputasi dan cepatnya iterasi model besar. Penurunan biaya dan semakin dekatnya komersialisasi dinilai dapat membuat AI memiliki siklus pertumbuhan lebih dari 10 tahun.

Beberapa bidang yang disebut berpotensi menjadi pusat ledakan aplikasi AI pada 2026 mencakup pengemudian cerdas, asisten AI, robot humanoid, serta pengembangan obat berbasis AI. Dalam paparan itu juga disebutkan pengujian L3 pengemudian cerdas telah mulai dilakukan di China, sementara asisten AI diproyeksikan dapat menjadi pintu masuk layanan digital baru.

Faktor ketiga adalah kebangkitan kekuatan AI China. Paparan tersebut menilai China berpeluang mengejar ketertinggalan, dengan mengacu pada pengalaman sektor lain seperti energi surya dan kendaraan energi baru. Inti kekuatan yang disorot adalah “substitusi domestik”, yang diproyeksikan mendorong kemajuan China baik pada sisi GPU maupun model besar.

Faktor keempat adalah perubahan struktur pasar perumahan yang disebut akan mengalami “pemisahan dua banding delapan”. Dalam kerangka yang disampaikan, analisis properti dilihat dari populasi untuk jangka panjang, tanah untuk jangka menengah, dan keuangan untuk jangka pendek. Era kenaikan harga yang merata disebut telah berakhir. Ke depan, kota-kota inti dengan arus masuk penduduk—diperkirakan sekitar 20%—dinilai masih memiliki peluang, sementara sekitar 80% kota dengan arus penduduk rendah disebut berisiko karena lemahnya permintaan.

Faktor kelima adalah meningkatnya gejolak geopolitik. Paparan tersebut menilai dunia berada dalam fase perubahan besar yang ditandai gejala deglobalisasi, perang dagang, konflik geopolitik, perang teknologi, hingga perlombaan senjata. Dalam konteks itu, logam mulia seperti emas dan perak kembali disebut sebagai aset yang berpotensi menguat di tengah ketidakpastian.

Kelima faktor tersebut—penurunan suku bunga global, ledakan aplikasi super AI, kebangkitan AI China, pemisahan pasar perumahan, dan meningkatnya gejolak geopolitik—dipaparkan sebagai tema utama yang dinilai dapat membentuk lanskap ekonomi dan pasar pada 2026.