Selat Hormuz kembali menjadi sorotan setelah perusahaan pelayaran global Maersk menyatakan jalur tersebut “tetap tertutup rapat”. Pernyataan ini memicu perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute pelayaran paling vital bagi distribusi energi dunia, sehingga setiap peningkatan risiko di kawasan tersebut berpotensi menekan ekonomi global.
Selat Hormuz adalah jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Rute ini dilalui kapal-kapal tanker yang mengangkut porsi besar pasokan minyak mentah dunia. Dalam laporan yang sama, disebutkan sekitar 30% minyak mentah global dan sekitar 20% konsumsi minyak cair global melewati Selat Hormuz setiap hari. Dengan peran sebesar itu, gangguan—atau meningkatnya risiko pelayaran—dapat berdampak langsung pada rantai pasok energi dan biaya logistik.
Pernyataan Maersk muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik antara Iran dan negara-negara Barat serta serangan terhadap kapal-kapal di Teluk Persia disebut telah meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. Istilah “tertutup rapat” dalam konteks ini dipahami sebagai meningkatnya risiko bagi kapal untuk melintas, bukan semata-mata pemblokiran fisik total. Kondisi tersebut dapat membuat perusahaan pelayaran mempertimbangkan ulang rute pelayaran karena ancaman keamanan, potensi pembatasan, serta konsekuensi biaya.
Jika risiko melintas meningkat, perusahaan pelayaran dapat mencari rute alternatif yang lebih panjang. Konsekuensinya adalah kenaikan biaya operasional, termasuk bahan bakar, waktu tempuh, dan premi asuransi. Kenaikan biaya logistik ini pada akhirnya dapat menambah tekanan pada harga energi, terutama minyak mentah, dan memperbesar risiko inflasi.
Pasar komoditas diperkirakan menjadi sektor yang paling cepat merespons. Ancaman terhadap ketersediaan pasokan biasanya mendorong harga minyak mentah, seperti WTI dan Brent, bergerak naik. Kenaikan harga energi dapat memperburuk tekanan inflasi global yang di banyak negara masih menjadi perhatian utama, sekaligus menambah kompleksitas kebijakan moneter.
Dampak juga berpotensi merembet ke pasar mata uang. Dolar AS kerap dipandang sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat, sehingga dalam jangka pendek bisa diuntungkan oleh sentimen “risk-off”. Namun, kenaikan harga energi juga dapat menjadi beban bagi perekonomian yang bergantung pada pasokan energi global. Sementara itu, euro dan pound sterling berisiko tertekan karena kawasan tersebut merupakan importir energi bersih; kenaikan harga minyak dapat menekan neraca perdagangan dan memperburuk tekanan inflasi.
Yen Jepang menghadapi dinamika ganda. Jepang merupakan salah satu importir energi terbesar, sehingga lonjakan harga minyak dapat menekan mata uangnya. Namun dalam situasi ketidakpastian ekstrem, yen juga kerap menguat karena statusnya sebagai aset safe haven. Di sisi lain, mata uang negara yang terkait dengan komoditas—seperti dolar Kanada, yang sering dihubungkan dengan pergerakan minyak—dapat memperoleh dukungan ketika harga energi naik.
Emas juga kembali menjadi perhatian sebagai aset lindung nilai. Ketidakpastian geopolitik dan potensi inflasi yang lebih tinggi biasanya memperkuat daya tarik emas. Dalam situasi seperti ini, pergerakan XAU/USD kerap menjadi barometer sentimen defensif pasar.
Perkembangan di Selat Hormuz terjadi ketika ekonomi global dinilai rentan: inflasi masih menjadi tantangan, sementara bank sentral berupaya menyeimbangkan pengetatan kebijakan untuk meredam harga dengan risiko perlambatan pertumbuhan. Lonjakan harga energi akibat gangguan jalur pasok dapat memperumit keputusan suku bunga karena tekanan inflasi dapat meningkat di saat ruang pertumbuhan menyempit.
Dengan demikian, pernyataan Maersk mengenai Selat Hormuz yang “tetap tertutup rapat” menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar untuk memantau risiko geopolitik dan dampaknya terhadap energi, inflasi, serta stabilitas keuangan. Situasi ini menegaskan kembali betapa sensitifnya ekonomi global terhadap keamanan jalur distribusi energi utama.