Kota Manado, Sulawesi Utara, menjadi lokasi kunjungan para duta besar dari lima negara anggota Inisiatif Segitiga Karang untuk Terumbu Karang, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (CTI-CFF/CT6), bersama duta besar dari negara mitra yang selama ini mendukung inisiatif tersebut. Kunjungan yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia itu berlangsung pada Kamis–Jumat, 23–24 April 2026.
Agenda ini bertujuan memperkuat kerja sama regional sekaligus menegaskan kembali komitmen bersama untuk memajukan pengelolaan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, sejalan dengan Rencana Aksi Regional (Regional Plan of Action/RPOA) 2.0 CTI-CFF.
Selama rangkaian kegiatan, para peserta mengikuti kunjungan lapangan dan diskusi yang menampilkan upaya Indonesia dalam mendorong pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan. Salah satu kunjungan dilakukan ke Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung serta PT Benteng Laut Sejahtera, yang menyoroti peluang pengembangan perikanan berkelanjutan dan keterlibatan sektor swasta.
Di Pulau Lembeh, peserta meninjau praktik konservasi terumbu karang berbasis masyarakat, termasuk upaya perlindungan keanekaragaman hayati laut. Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan ke kawasan konservasi mangrove di Desa Budo, Kabupaten Minahasa Utara, yang disebut sebagai contoh penerapan pendekatan berbasis ekosistem dalam pengelolaan pesisir serta peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim. Inisiatif tersebut dinilai tidak hanya melindungi habitat penting, tetapi juga mendukung mata pencaharian berkelanjutan masyarakat setempat.
Salah satu agenda utama adalah sesi bertajuk “Memanfaatkan Potensi Kerja Sama Blue Economy” yang digelar di Sekretariat Regional CTI-CFF di Manado pada Jumat, 24 April 2026. Forum ini menjadi wadah pertukaran pandangan antara para duta besar, pejabat senior pemerintah, dan pimpinan CTI-CFF, dengan fokus pada penguatan kemitraan, mobilisasi dukungan, serta percepatan implementasi prioritas dalam RPOA 2.0.
Direktur Eksekutif Sekretariat Regional CTI-CFF, Dr. Frank Keith Griffin, menekankan pentingnya kolaborasi regional. Menurutnya, kunjungan tersebut mencerminkan meningkatnya komitmen dan keterlibatan negara anggota serta mitra untuk mempercepat pelaksanaan RPOA 2.0. “Kerja sama yang solid akan membuka potensi penuh Ekonomi Biru sekaligus memastikan keberlanjutan sumber daya kelautan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Santo Darmosumarto, juga menyoroti arti kemitraan global dalam mengoptimalkan potensi ekonomi biru Indonesia. Ia menyampaikan harapan agar kegiatan ini membuka peluang kerja sama yang lebih konkret dengan mitra internasional. Menurutnya, peran CTI-CFF strategis dalam menjembatani kolaborasi regional serta memperkuat pengelolaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Pernyataan itu disampaikan didampingi Direktur Kerja Sama Intra Kawasan dan Antar Kawasan, Febrian Irawati Mamesah.
Communication & Information Manager Sekretariat Regional CTI-CFF, Kimberly Christine Chung, turut menekankan pentingnya upaya perlindungan habitat laut sekaligus peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim. Secara keseluruhan, kunjungan diplomatik ini menegaskan pentingnya keterlibatan berkelanjutan dan solidaritas regional dalam menghadapi tantangan sektor kelautan dan pesisir, serta diharapkan memperkuat kemitraan dan mempercepat implementasi RPOA 2.0 di kawasan Segitiga Terumbu Karang.