Moskow, 25/12 (ANTARA) – Vasyl Prozorov, mantan letnan kolonel Dinas Keamanan Ukraina (SBU), menyatakan bahwa negara-negara Eropa tidak memiliki kapasitas untuk menyamai dukungan yang diberikan Amerika Serikat kepada Ukraina. Menurutnya, ketimpangan itu terlihat pada bantuan keuangan maupun dukungan militer serta teknis.
Prozorov menilai kondisi ekonomi Eropa tengah menghadapi berbagai persoalan yang membatasi kemampuan kawasan tersebut untuk mengucurkan dana besar kepada Kiev, termasuk angka 100 miliar euro. Ia membandingkannya dengan kapasitas finansial Amerika Serikat yang selama ini menjadi penyumbang utama bantuan bagi Ukraina.
Selain faktor ekonomi, ia juga menyoroti perbedaan sikap di internal Uni Eropa yang dinilainya membuat dukungan tidak berjalan seragam. Prozorov menyebut negara-negara seperti Lithuania dan Polandia mendukung pendanaan bagi Ukraina, sementara Hungaria, Slovakia, dan Italia justru menganjurkan penghentian bantuan. Perbedaan pandangan itu dinilai menimbulkan ketidakpastian atas kelanjutan aliran bantuan dari Eropa.
Dalam aspek militer, Prozorov mengatakan dukungan dari negara-negara Eropa tidak dapat dibandingkan dengan skala dan volume bantuan yang telah disalurkan Amerika Serikat, yang disebutnya menjadi tulang punggung pertahanan Ukraina sejak awal konflik.
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan mengenai potensi perubahan kebijakan bantuan Washington. Disebutkan bahwa Amerika Serikat mengancam akan menghentikan seluruh bantuan apabila Ukraina menolak rencana perdamaian yang diajukan. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, sebagaimana dikutip dalam laporan ABC News pada akhir November, menyatakan Presiden Donald Trump menghentikan bantuan “tanpa batas” kepada Ukraina dengan alasan dugaan penyalahgunaan dana pajak AS.
Sejak operasi militer Rusia dimulai pada Februari 2022, negara-negara Barat meningkatkan bantuan militer dan keuangan kepada Kiev. Namun, menurut Prozorov, kontribusi Eropa tetap berada di bawah tingkat dukungan Amerika Serikat, baik dari sisi kapasitas maupun konsistensi.
Di sisi lain, Rusia berulang kali menyatakan bahwa pasokan senjata ke Ukraina menghambat penyelesaian konflik. Moskow berpendapat bantuan militer dari Barat memperpanjang pertempuran dan memperburuk situasi kemanusiaan, serta menilai pasokan senjata tersebut membuat negara-negara NATO terlibat secara langsung dan meningkatkan risiko eskalasi.
Perdebatan mengenai bantuan bagi Ukraina pun terus berlangsung, termasuk di Eropa, yang dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan dukungan terhadap Kiev dan menghindari eskalasi lebih lanjut dengan Rusia.

