Moskow — Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan Eropa perlu mulai berbicara dengan Rusia terkait perang di Ukraina. Ia juga menyerukan agar Uni Eropa menunjuk seorang utusan khusus untuk membantu mendorong penyelesaian konflik tersebut.
“Saya kira sudah saatnya Eropa juga berbicara dengan Rusia. Karena jika Eropa memutuskan untuk berpartisipasi dalam tahap negosiasi ini hanya dengan berbicara dengan salah satu pihak, saya khawatir pada akhirnya kontribusi positif kita akan terbatas,” kata Meloni dalam konferensi pers akhir tahunnya di parlemen Italia, Jumat.
Meloni menilai salah satu tantangan utama Eropa adalah adanya perbedaan pandangan di antara negara-negara Eropa mengenai isu Ukraina. Menurutnya, kondisi itu membuat posisi Eropa sulit disampaikan secara seragam.
Karena itu, ia kembali mendorong penunjukan utusan khusus Uni Eropa untuk penyelesaian masalah Ukraina. “Seseorang yang akan memungkinkan kita untuk membuat generalisasi dan berbicara dengan satu suara,” ujar Meloni.
Dalam perkembangan terpisah, sejak pertengahan November Amerika Serikat disebut mempromosikan rencana perdamaian baru untuk Ukraina. Pada 2 Desember, Presiden Rusia Vladimir Putin menerima utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, di Kremlin. Kunjungan tersebut dikaitkan dengan pembahasan rencana perdamaian AS untuk Ukraina.
Kremlin menyatakan Rusia tetap terbuka untuk bernegosiasi dan berkomitmen pada diskusi yang berlangsung pada Agustus lalu dalam pertemuan Putin-Trump di Anchorage, Alaska.
Pada 14–15 Desember, Berlin menjadi tuan rumah negosiasi mengenai penyelesaian konflik Ukraina yang melibatkan Witkoff, Kushner, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Witkoff kemudian melaporkan kemajuan pada rencana penyelesaian yang terdiri dari 20 poin.
Para pemimpin Uni Eropa setelah itu mengeluarkan pernyataan mengenai jaminan untuk Ukraina dan langkah-langkah menuju penyelesaian konflik, termasuk pengiriman pasukan multinasional ke negara tersebut serta mempertahankan militer Ukraina pada tingkat sedikitnya 800 ribu tentara.

