Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimistis perekonomian Indonesia tidak akan mudah goyah hanya karena tekanan global. Ia menegaskan, sekitar 90 persen perekonomian nasional ditopang oleh permintaan domestik, sementara 10 persen lainnya terkait dengan pasar global.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam orasi ilmiah di Universitas Indonesia (UI), Sabtu (14/2). Menurutnya, kekhawatiran berlebihan terhadap kondisi global justru dapat membuat masyarakat terjebak dalam narasi pesimistis.
“Jadi kalau yang 10 persen amburadul, saya hidupkan yang 90 persen. Kita harusnya masih nggak apa-apa. Intinya adalah, Anda jangan takut, nasib kita di tangan kita sendiri,” kata Purbaya.
Purbaya juga menjelaskan bahwa perekonomian bergerak dalam siklus atau business cycle, yakni naik dan turun secara periodik. Ia menyebut Indonesia sempat berada pada fase resesi pada 2020, namun sejak 2023 kembali memasuki fase ekspansi.
“Resesi kita terakhir tahun 2020, 2023 kita memasuki fase ekspansi lagi, dan kalau kita pintar, kita bisa ekspansi itu sampai 2033 sebelum ekonominya melambat lagi,” ujarnya.
Ia menilai, bila momentum ekspansi dikelola secara tepat, Indonesia berpeluang menjaga pertumbuhan ekonomi hingga sekitar satu dekade ke depan sebelum memasuki fase perlambatan berikutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya memperkirakan ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh minimal 6,7 persen dan menuju 7 persen. Ia menyampaikan, pertumbuhan tersebut dinilai penting untuk menyerap tambahan tenaga kerja baru yang terus bertambah setiap tahun.
Purbaya turut menyinggung pengalaman sejumlah negara, seperti Korea, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, dan China. Menurutnya, untuk menjadi negara maju, sebuah negara perlu mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan konsisten dalam jangka panjang.
“Kalau saya lihat Korea, Taiwan, Jepang, Amerika, Jerman, China. Untuk menjadi negara maju, Anda harus tumbuh double digit dalam lebih dari 10 tahun,” katanya.
Secara keseluruhan, Purbaya menekankan bahwa fondasi ekonomi domestik Indonesia dinilai kuat. Meski tantangan global tetap ada, ia menilai kendali utama tetap berada pada kemampuan Indonesia mengelola kekuatan ekonominya sendiri.

