Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik kembali meningkat pada awal 2026, menyusul pengiriman pasukan dari sejumlah negara Eropa ke Greenland serta menguatnya pernyataan keras dari Amerika Serikat terkait masa depan pulau tersebut. Situasi ini memunculkan spekulasi mengenai arah hubungan transatlantik dan stabilitas keamanan di Arktik.
Greenland merupakan wilayah otonom terbesar di dunia yang secara politik berada di bawah Kerajaan Denmark. Pulau ini dipandang strategis karena letaknya di jalur Arktik, potensi sumber daya alam, serta keberadaan basis-basis militer NATO, termasuk fasilitas NORAD yang mendukung pengawasan ruang udara di kawasan tersebut.
Krisis terbaru mencuat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyampaikan pandangan bahwa Greenland adalah aset strategis penting. Dalam pernyataannya, Trump juga disebut tidak menutup kekhawatiran negara lain mengenai kemungkinan penggunaan kekuatan untuk memperoleh pengaruh atau kontrol, meski tanpa menjelaskan rincian langkah yang dimaksud.
Dalam beberapa pekan terakhir, Denmark—sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pertahanan Greenland—mengerahkan ratusan tentara ke wilayah tersebut dalam latihan militer bertajuk Operation Arctic Endurance. Pengerahan itu melibatkan unit Denmark yang diperkuat kontribusi militer dari negara-negara NATO Eropa, di antaranya Prancis, Jerman, Swedia, dan Norwegia.
Mayor Jenderal Denmark Peter Harling Boysen menyatakan bahwa “keamanan Arktik adalah prioritas utama dan kami siap mempertahankan wilayah ini” dalam konteks latihan keamanan yang sedang berlangsung. Latihan tersebut difokuskan pada penguatan posisi pertahanan, pengintaian bersama, serta kemampuan logistik untuk menghadapi ancaman potensial di wilayah Arktik.
Meski demikian, pasukan yang dikerahkan disebut bersifat simbolik dan relatif kecil dibandingkan kekuatan militer utama. Tujuannya lebih diarahkan sebagai upaya pencegahan (deterrence) ketimbang persiapan untuk konflik berskala besar.
Pernyataan Amerika Serikat yang dikabarkan tidak menutup kemungkinan opsi militer untuk mendapatkan Greenland memicu reaksi di Eropa dan menambah tekanan dalam kerangka NATO. Trump dilaporkan menyebut isu Greenland sebagai bagian dari strategi keamanan nasional AS, namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Dampaknya, ketegangan disebut merembet ke ranah kerja sama aliansi. Menurut laporan, beberapa sekutu NATO di Eropa bahkan menahan informasi intelijen dari AS karena kekhawatiran data tersebut dapat digunakan dalam skenario agresi terhadap Greenland.
Sejumlah pejabat Eropa juga mengecam ancaman tarif dan retorika yang dinilai berpotensi merusak hubungan bilateral serta stabilitas aliansi. Di sisi lain, Komisi Eropa menyatakan tengah menyiapkan paket keamanan untuk kawasan Arktik sebagai respons atas dinamika terbaru.
Perkembangan ini menempatkan Greenland kembali sebagai titik sensitif dalam persaingan strategis di Arktik, sekaligus menguji soliditas kerja sama keamanan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa.

