Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyerukan penguatan upaya diplomasi untuk menjamin kebebasan navigasi yang berkelanjutan di Selat Hormuz, di tengah pembatasan pelayaran yang terjadi menyusul serangan bersama Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran beberapa waktu lalu.
Albusaidi mengatakan dirinya telah melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengenai situasi di Selat Hormuz, dan menyebut diskusi tersebut berlangsung “baik”.
Melalui unggahan di platform media sosial X, Albusaidi menekankan tanggung jawab bersama negara-negara pesisir terhadap komunitas internasional. Ia juga menyoroti kebutuhan kemanusiaan untuk membebaskan para pelaut yang disebut telah ditahan terlalu lama.
“Diperlukan banyak diplomasi dan solusi praktis untuk memastikan kebebasan navigasi yang berkelanjutan,” tulis Albusaidi.
Araghchi tiba di Muscat pada Sabtu (25/4) dari Islamabad untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat Oman, di tengah upaya mediasi Pakistan guna mencapai kesepakatan antara Iran dan AS untuk mengakhiri konflik mereka.
Setelah kunjungan tersebut, Araghchi kembali ke Pakistan pada Minggu untuk berdiskusi dengan pejabat setempat mengenai kemungkinan putaran kedua negosiasi dengan Washington. Dari Islamabad, ia kemudian bertolak menuju Moskow untuk menggelar pembicaraan dengan pejabat Rusia.
Iran dan AS sebelumnya telah menggelar pembicaraan di Islamabad dua pekan lalu, namun belum menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Negosiasi itu berlangsung setelah Pakistan memediasi gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April, yang kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump.
Meski upaya penyelenggaraan putaran pembicaraan berikutnya masih berjalan, sejumlah isu utama dilaporkan masih belum terselesaikan. Isu tersebut mencakup Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, serta uranium yang diperkaya oleh Iran.