Pakar Sosiologi Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., menilai invasi Amerika Serikat ke Venezuela berpotensi memicu konflik horizontal berkepanjangan di tengah masyarakat. Menurutnya, penangkapan Presiden Nicolás Maduro tidak hanya mengguncang stabilitas politik nasional, tetapi juga membuka ruang bagi perlawanan politik yang berulang dan sulit dihentikan.
Zuly mengatakan kondisi Venezuela saat ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial-politik Amerika Latin yang sejak lama dikenal memiliki tradisi perlawanan politik yang kuat. Ia menilai Venezuela mulai menunjukkan pola konflik serupa dengan sejumlah negara di kawasan tersebut, ketika krisis politik kerap berujung pada ketidakstabilan sosial yang berkepanjangan.
“Ketika pemimpin tertinggi sebuah negara ditangkap oleh kekuatan asing, risikonya sangat besar. Ini bukan sekadar pergantian kekuasaan, tetapi dapat memicu konflik horizontal di tengah masyarakat,” ujar Zuly saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/1).
Dalam situasi krisis legitimasi, ia memperingatkan potensi munculnya konflik antarwarga antara kelompok pendukung pemimpin yang ditangkap dan kelompok yang mendukung kepemimpinan baru pasca-invasi. Menurutnya, konflik semacam itu cenderung berulang dan sulit diselesaikan secara tuntas.
“Perlawanan itu tidak berhenti satu kali. Hari ini satu kelompok berkuasa karena dukungan asing, besok kelompok lain akan melawan. Siklus ini terus berulang dan tidak membawa kebaikan bagi masyarakat,” jelasnya.
Zuly juga menyinggung pengalaman sejumlah negara yang mengalami konflik politik berkepanjangan akibat pergantian kekuasaan yang tidak diselesaikan melalui mekanisme legitimasi yang kuat. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut dinilai memperburuk kesejahteraan masyarakat dan melemahkan fungsi negara dalam menjaga ketertiban serta menyediakan layanan publik dasar.
Ia menambahkan, konflik horizontal yang berlarut-larut dapat membuat masyarakat hidup dalam ketidakpastian politik. Di sisi lain, negara berisiko kehilangan kapasitas untuk menjalankan fungsi dasarnya, sementara polarisasi di masyarakat semakin tajam.
“Secara sosiologis, ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Negara menjadi rapuh, masyarakat terbelah, dan stabilitas jangka panjang sulit dicapai,” tegasnya.
Menurut Zuly, selama pergantian kekuasaan dilakukan melalui tekanan dan intervensi asing, risiko konflik horizontal dan krisis legitimasi akan terus membayangi Venezuela. Ia menilai situasi ini perlu menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya bersifat politik, tetapi juga sosial dan kemanusiaan.
“Jika konflik ini tidak dikelola dengan hati-hati, yang terjadi bukan perbaikan, melainkan krisis yang semakin dalam,” pungkasnya.

