BERITA TERKINI
Pelayaran Perdana KRI Prabu Siliwangi Uji Kapabilitas Baru TNI AL Sekaligus Perluas Diplomasi Maritim

Pelayaran Perdana KRI Prabu Siliwangi Uji Kapabilitas Baru TNI AL Sekaligus Perluas Diplomasi Maritim

Pelayaran perdana KRI Prabu Siliwangi, kapal fregat baru TNI Angkatan Laut, menandai pembaruan penting dalam kapabilitas maritim Indonesia sekaligus menjadi bagian dari misi diplomasi di sejumlah negara. Kapal tersebut berangkat dari pangkalan Angkatan Laut Italia di La Spezia pada pertengahan Februari 2026 dan tiba di Indonesia pada akhir Maret.

Dalam perjalanan menuju Indonesia, KRI Prabu Siliwangi singgah di beberapa pelabuhan, termasuk di Maroko, Nigeria, Afrika Selatan, serta Mauritius. Rangkaian kunjungan itu disebut memperkuat hubungan dengan mitra sekaligus menguji daya tahan dan kesiapan kapal perang yang digambarkan sebagai yang paling canggih di jajaran TNI AL.

Analis Lemhannas Strategic Center Jakarta, Marcellus Hakeng Jayawibawa, menilai pelayaran tersebut membawa pesan perubahan arah. Menurutnya, Indonesia sedang bertransformasi dari kekuatan maritim yang selama ini lebih defensif menuju aktor yang mampu melakukan proyeksi kekuatan.

KRI Prabu Siliwangi merupakan satu dari dua fregat multiperan buatan Italia yang di Indonesia dikenal sebagai kelas Brawijaya. Pengadaan kapal-kapal ini ditujukan untuk memperkuat kapabilitas, dengan daya tahan yang lebih baik serta konfigurasi yang fleksibel untuk berbagai misi, termasuk keamanan maritim dan operasi berintensitas tinggi.

Sebelumnya, kapal pertama dari kelas yang sama, KRI Brawijaya, telah berlayar dari Italia ke Indonesia pada 2025 dalam perjalanan selama enam minggu. Saat itu, KRI Brawijaya melakukan kunjungan pelabuhan di Turki, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Sri Lanka.

Pelayaran KRI Prabu Siliwangi juga diisi kegiatan diplomatik, seperti resepsi resmi, pertukaran budaya, serta keterlibatan dengan Angkatan Laut Afrika Selatan dan otoritas setempat. Rute yang mencakup persinggahan di Lagos, Nigeria, dan Cape Town, Afrika Selatan, dipandang mencerminkan upaya Indonesia memperluas kemitraan maritim di luar fokus tradisionalnya di kawasan Indo-Pasifik.

Marcellus menilai kunjungan di Lagos dan Cape Town dapat menjadi titik masuk strategis bagi Indonesia ke lanskap kerja sama maritim Afrika. Ia menyinggung tantangan pembajakan di Teluk Guinea di lepas pantai Afrika Barat serta pentingnya Tanjung Harapan di ujung selatan benua Afrika bagi jalur pengapalan global.

Misi pelayaran ini juga mencakup persinggahan di Port Louis, Mauritius. Di sana, kru KRI Prabu Siliwangi bertemu dengan Pasukan Penjaga Pantai Mauritius sebelum melanjutkan perjalanan melintasi Samudra Hindia menuju Asia Tenggara.

Menurut Marcellus, pengerahan jarak jauh seperti pelayaran KRI Prabu Siliwangi pada dasarnya berfungsi sebagai “laboratorium bergerak” untuk menguji daya tahan operasional kapal secara menyeluruh.