Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Upaya ini dilakukan seiring dampak krisis energi global terhadap pasokan energi ke Indonesia.
Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Sentot Harijady Bradjanto Tri Putro mengatakan, konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pada periode Februari hingga April 2026 memicu krisis energi global yang turut berpengaruh pada pasokan energi nasional.
Sentot menyampaikan, Indonesia saat ini melakukan rekalibrasi diplomasi energi sebagai salah satu langkah untuk mengamankan pasokan. Menurutnya, Indonesia dinilai rentan terhadap kemungkinan penutupan Selat Hormuz yang berpotensi memutus sekitar 20% pasokan komoditas migas nasional yang diimpor dari kawasan Timur Tengah.
Ia menekankan, penguatan ketahanan energi tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan seperti biasa. Strategi yang dibutuhkan, kata Sentot, meliputi diversifikasi sumber impor serta pengelolaan cadangan energi nasional secara efektif.
Di sisi kebijakan domestik, Sentot menyatakan pemerintah berkomitmen mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) bersubsidi (public service obligation/PSO) untuk menjaga stabilitas ekonomi hingga akhir 2026. Langkah itu disebut untuk menjaga daya beli masyarakat, meski harga minyak dunia sempat menembus US$ 115 per barel.
Selain itu, pemerintah juga menerapkan langkah efisiensi untuk menekan konsumsi BBM nasional. Di antaranya berupa pengalihan anggaran operasional kementerian ke sektor energi dan penerapan kebijakan bekerja dari rumah (WFH) setiap Jumat bagi aparatur sipil negara (ASN) mulai April 2026.
Sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto, Indonesia menargetkan penghentian impor BBM dalam 2–3 tahun ke depan. Target swasembada energi tersebut didukung sejumlah proyek strategis nasional, termasuk Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan yang telah diresmikan pada Januari 2026.
Sentot juga menyoroti pentingnya investasi dan teknologi untuk membalikkan tren penurunan produksi migas domestik. Ia mengatakan Indonesia membuka peluang kolaborasi internasional untuk membangun sektor hilir energi yang tangguh dan berkelanjutan.